Kolom

Refleksi Milad ke-61 KOKAM: Perekat Persatuan, Menegakkan Peradaban Bangsa yang Berkemajuan

Oleh: Yusuf Fa'iquddin, S.E. (Komandan KOKAM PDPM Sukoharjo)

Enam dekade lebih satu tahun bukanlah rentang waktu yang pendek bagi sebuah organisasi yang lahir dari semangat pengabdian, kesiapsiagaan, dan kepedulian terhadap bangsa. Sejak kelahirannya pada 1965, Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Muhammadiyah sekaligus turut hadir dalam berbagai dinamika kehidupan kebangsaan Indonesia.

Kini, ketika KOKAM memasuki usia ke-61 pada 2026, zaman telah berubah. Medan pengabdian tidak lagi semata-mata berada di ruang-ruang fisik. Perubahan teknologi, derasnya arus informasi, polarisasi sosial, disrupsi global, serta pergeseran cara masyarakat berinteraksi telah melahirkan bentuk-bentuk tantangan baru.

Dalam konteks tersebut, KOKAM dituntut membaca zaman dengan lebih jernih. Kesiapsiagaan tidak cukup dimaknai sebagai kesiapan menghadapi keadaan darurat secara fisik. Kesiapsiagaan juga harus menjelma menjadi kesiapan intelektual, moral, sosial, dan kebangsaan.

Pada titik inilah Milad ke-61 KOKAM menjadi momentum untuk menegaskan tanggung jawab historis KOKAM: menjadi salah satu kekuatan perekat persatuan dan ikut membangun peradaban bangsa yang berkemajuan.

Peradaban Bangsa dan Makna Persatuan

Peradaban sebuah bangsa tidak semata-mata diukur dari tinggi gedung, panjang jalan, kemajuan teknologi, atau besarnya pertumbuhan ekonomi. Peradaban yang sesungguhnya tercermin dari kualitas manusia yang menghuninya: etika publiknya, penghormatan terhadap kemanusiaan, kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, serta kemampuan menjaga persatuan di tengah keberagaman.

Indonesia dibangun bukan di atas keseragaman. Ia lahir dari keberagaman suku, bahasa, agama, kebudayaan, dan latar sejarah yang membentang dari Sabang sampai Merauke.

Karena itu, persatuan Indonesia bukanlah upaya menyeragamkan perbedaan. Persatuan adalah kemampuan untuk hidup bersama, saling menghormati, dan bekerja untuk tujuan yang lebih besar daripada kepentingan kelompok.

Dalam perspektif Muhammadiyah, semangat tersebut menemukan relevansinya dalam gagasan Islam Berkemajuan. Islam tidak ditempatkan sebagai kekuatan yang menjauhkan manusia dari kehidupan kebangsaan, tetapi sebagai energi moral dan intelektual untuk menghadirkan kemaslahatan, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta membangun kehidupan yang berkeadaban.

Persatuan, dengan demikian, bukan sekadar slogan. Ia harus menjadi kebiasaan sosial, kesadaran moral, dan tindakan nyata.

Pendidikan sebagai Fondasi Persatuan Hakiki

Jika sejarah peradaban manusia dibaca secara jernih, hampir tidak ada bangsa besar yang membangun kemajuan tanpa menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama.

Pendidikan bukan hanya persoalan sekolah, ruang kelas, ijazah, atau gelar akademik. Pendidikan adalah proses membentuk manusia agar mampu berpikir, menimbang, memahami perbedaan, membedakan kebenaran dan kebohongan, serta mengambil keputusan dengan tanggung jawab.

Karena itu, salah satu ancaman terbesar terhadap persatuan bukan hanya konflik terbuka, tetapi juga kebodohan, fanatisme yang kehilangan nalar, rendahnya literasi, dan ketidakmampuan masyarakat mengelola perbedaan.

Hoaks, ujaran kebencian, provokasi, serta polarisasi yang berkembang di ruang digital menunjukkan bahwa pertarungan menjaga persatuan bangsa telah memasuki medan baru.

Di sinilah KOKAM perlu mengambil peran yang lebih strategis.

KOKAM tidak boleh direduksi hanya sebagai pasukan yang identik dengan seragam loreng, barisan yang tegap, dan kesiapan menghadapi keadaan darurat. Semua itu tetap penting sebagai identitas kesiapsiagaan. Namun, makna pengabdian KOKAM harus bergerak lebih jauh.

Setiap anggota KOKAM harus menjadi manusia yang siap secara fisik sekaligus matang secara intelektual.

KOKAM harus hadir sebagai agen pendidikan publik, penjaga nalar sehat, dan teladan dalam membangun kehidupan sosial yang dewasa.

Persatuan yang kokoh hanya dapat dirawat oleh masyarakat yang mampu memahami perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan.

KOKAM dan Pengabdian Kemanusiaan

Trilogi pengabdian KOKAM melalui kemanusiaan, kebencanaan, dan ekologi merupakan ruang nyata untuk menerjemahkan nilai Islam Berkemajuan dalam kehidupan kebangsaan.

[PERLU VERIFIKASI: pastikan istilah “trilogi pengabdian KOKAM” merupakan nomenklatur resmi KOKAM. Jika merupakan rumusan penulis, kalimat dapat dipertahankan dengan penegasan bahwa ini merupakan perspektif penulis.]

Dalam kerja kemanusiaan, KOKAM tidak seharusnya melihat manusia berdasarkan latar belakang suku, agama, kelompok sosial, maupun pilihan politiknya. Ketika seseorang membutuhkan pertolongan, yang pertama-tama harus dilihat adalah kemanusiaannya.

Di tengah bencana, penderitaan, kemiskinan, maupun ketidakadilan yang menimpa masyarakat, KOKAM harus hadir sebagai kekuatan yang memberikan pertolongan dengan ketulusan.

Di situlah nilai kemanusiaan menemukan bentuknya.

Islam Berkemajuan bukan sekadar gagasan yang dibicarakan di ruang-ruang akademik. Ia harus dapat dirasakan oleh masyarakat melalui tindakan nyata: melalui tangan yang menolong, tenaga yang bekerja, ilmu yang dibagikan, dan keberanian untuk berdiri bersama mereka yang membutuhkan.

KOKAM memiliki ruang yang luas untuk menghadirkan wajah tersebut.

Merawat Ekologi, Merawat Masa Depan Bangsa

Persatuan bangsa juga tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan ruang hidup.

Kerusakan lingkungan tidak mengenal batas suku, agama, maupun wilayah administratif. Banjir, kekeringan, pencemaran, kerusakan hutan, dan berbagai persoalan ekologis pada akhirnya akan berdampak kepada seluruh lapisan masyarakat.

Karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan ekologis. Ia merupakan bagian dari tanggung jawab kebangsaan.

KOKAM perlu menjadikan kesadaran ekologis sebagai bagian dari kesiapsiagaan peradaban. Menjaga alam berarti menjaga kehidupan. Menjaga kehidupan berarti menjaga masa depan bangsa.

Dengan demikian, pengabdian KOKAM tidak berhenti pada respons ketika bencana telah terjadi, tetapi juga bergerak menuju upaya pencegahan, edukasi, dan pembentukan kesadaran masyarakat.

Kesiapsiagaan Peradaban di Tengah Polarisasi Modern

Ketika pasukan KOKAM berdiri dalam barisan, mengenakan seragam loreng dengan sikap tegap dan penuh disiplin, masyarakat tentu menangkap pesan tentang kesiapsiagaan dan keberanian.

Namun, pada usia ke-61, simbol tersebut perlu dibaca dengan makna yang lebih dalam.

Seragam loreng bukan sekadar pakaian. Ia adalah simbol kesiapan untuk mengabdi.

Barisan bukan sekadar formasi. Ia adalah simbol kedisiplinan dan persatuan.

Kesiapsiagaan bukan sekadar kemampuan menghadapi ancaman fisik. Ia adalah kesiapan jiwa dan pikiran untuk menghadapi setiap tantangan zaman.

Jika dahulu ancaman terhadap bangsa dapat terlihat dalam bentuk konflik fisik dan berbagai keadaan darurat, hari ini medan tantangannya semakin kompleks. Polarisasi digital, manipulasi informasi, disinformasi, ujaran kebencian, politik identitas yang sempit, dan berbagai narasi yang mempertentangkan sesama anak bangsa dapat merusak persatuan tanpa suara tembakan sekalipun.

Maka, medan pengabdian KOKAM pun harus semakin luas.

KOKAM harus mampu menjadi pelopor literasi digital yang menyejukkan. KOKAM harus mampu membangun budaya dialog. KOKAM harus berani melawan informasi palsu dengan pengetahuan. KOKAM harus mampu menghadirkan ketegasan tanpa kebencian dan keberanian tanpa kehilangan kebijaksanaan.

Inilah yang dapat disebut sebagai kesiapsiagaan peradaban.

Sebuah kesiapan untuk menjaga agar tenun kebangsaan Indonesia tidak terkoyak oleh kedangkalan berpikir, kepentingan sesaat, dan fanatisme yang kehilangan akal sehat.

Dari Sukoharjo untuk Indonesia

Bagi KOKAM Kabupaten Sukoharjo, Milad ke-61 bukan sekadar peringatan bertambahnya usia organisasi.

Ia adalah momentum untuk melakukan refleksi: sejauh mana KOKAM telah memberikan manfaat bagi masyarakat, sejauh mana kader-kadernya telah menjadi teladan dalam kehidupan sosial, dan sejauh mana pengabdiannya telah memberikan kontribusi bagi persatuan bangsa.

Sukoharjo adalah bagian dari Indonesia yang memiliki sejarah, kebudayaan, masyarakat, dan dinamika sosialnya sendiri. Dari daerah ini, semangat pengabdian harus terus tumbuh dan memberi manfaat lebih luas.

KOKAM Sukoharjo harus mampu menjadi kekuatan yang dekat dengan masyarakat, tanggap terhadap persoalan, cepat dalam pelayanan, matang dalam berpikir, dan teguh dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan.

Sebab, pengabdian kepada bangsa tidak selalu dimulai dari panggung besar.

Ia dapat dimulai dari desa, dari masjid, dari sekolah, dari kegiatan sosial, dari penanganan bencana, dari kepedulian terhadap lingkungan, bahkan dari keberanian untuk menghentikan sebuah informasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.

Sejarah besar selalu dibangun oleh pengabdian yang dilakukan secara konsisten.

Menjaga Persatuan, Menegakkan Peradaban

Milad ke-61 KOKAM hendaknya menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa KOKAM bukan sekadar barisan berbaju loreng.

KOKAM adalah bagian dari perjalanan panjang pengabdian Muhammadiyah kepada umat dan bangsa.

Ia adalah kekuatan kesiapsiagaan yang harus terus beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan akar nilai dan jati dirinya.

Di tengah Indonesia yang majemuk, KOKAM harus mampu menjadi titik temu, kalimatun sawa, yang mempertemukan perbedaan dalam semangat persaudaraan dan pengabdian.

Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak memiliki perbedaan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan.

Tidak ada peradaban besar yang dibangun oleh masyarakat yang saling mencurigai. Tidak ada kemajuan yang lahir dari bangsa yang terus-menerus terpecah. Dan tidak ada masa depan yang kokoh tanpa persatuan.

Karena itu, KOKAM harus terus hadir.

Tegap dalam kesiapsiagaan.
Tulus dalam kemanusiaan.
Tangguh menghadapi kebencanaan.
Peduli terhadap kelestarian alam.
Cerdas membaca zaman.
Dan kokoh menjaga persatuan.

Selamat Milad ke-61 KOKAM.

Teruslah tegap menjaga semesta, ikhlas mengabdi, dan bersama-sama menegakkan peradaban bangsa yang berkemajuan.

Dari Sukoharjo, untuk Muhammadiyah, untuk Indonesia.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *