Inovasi Tim UMS: Cara Seru Anak Disleksia Belajar Menulis Huruf Pakai Pasir dan Plastisin
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghadirkan metode edukasi inklusif Fun Motion untuk membantu anak disleksia belajar menulis huruf. Program pengabdian masyarakat ini menyasar para siswa di SDN Nayu Barat 1 Surakarta melalui pendekatan sensori-kinestetik yang menyenangkan.
Mahasiswa PKM-PM “Sahabat Disleksia” UMS memanfaatkan pasir, plastisin, serta buku warna-warni sebagai alat bantu visual. Kelima mahasiswa lintas prodi ini merancang media belajar sesuai tingkatan kelas agar proses stimulasi motorik halus berjalan maksimal.
Ketua Tim PKM-PM UMS, Ela Fitriana, menjelaskan bahwa aktivitas menyentuh pasir dan membentuk plastisin efektif melatih koordinasi tangan anak disleksia. Metode multisensori ini membuat siswa tak sekadar melihat simbol, tetapi juga meraba dan mencetak bentuk huruf secara nyata.
Pendekatan Bertahap untuk Motorik Halus
Siswa kelas IV hingga VI menggunakan media pasir dalam kotak untuk membentuk pola tulisan. Sementara itu, siswa kelas I hingga III memanfaatkan plastisin warna-warni guna mencetak huruf.
“Pendekatan multisensori ini membuat siswa tidak hanya melihat bentuk huruf, tetapi juga merasakan dan membentuknya secara langsung,” kata Ela, Minggu (23/8/2026).
Setelah sesi pasir dan plastisin, siswa melanjutkan latihan lewat aktivitas Rainbow Book. Buku khusus penuh warna ini memandu anak disleksia melatih presisi jemari, mulai dari menebalkan garis lurus hingga mampu menggoreskan pensil secara mandiri.
Dampak Positif dan Pendidikan Inklusif
Salah satu siswa, Michelle, mengaku sangat menikmati sesi belajar interaktif tersebut. Ia merasa lebih mudah mengenali bentukan huruf karena proses latihan berlangsung seraya bermain. Guru SDN Nayu Barat 1, Pak Bhian, juga mengapresiasi keaktifan para siswa yang menjadi lebih bersemangat selama pendampingan.
Inovasi ini membuktikan bahwa anak disleksia membutuhkan pendekatan khusus yang tidak membebani mental mereka. Tim UMS berharap metode Fun Motion ini menjadi acuan bagi sekolah umum dalam menciptakan ruang belajar inklusif yang ramah anak.
Kontributor: Maysali
Editor: Akmal



