Tak Takut Digantikan AI, Guru Muhammadiyah Purbalingga Siapkan Strategi Khusus
PWMJATENG.COM, PURBALINGGA — Sebanyak 270 guru Muhammadiyah era AI berkumpul di Purbalingga. Mereka merumuskan strategi pembelajaran baru di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan. Para pendidik ini menegaskan bahwa canggihnya teknologi tidak akan pernah menggantikan peran empati serta karakter seorang guru.
Pelatihan bertajuk “Menjadi Guru Inspiratif di Era AI” ini berlangsung pada Kamis, 20 Agustus 2026. Seluruh peserta memadati lokasi acara dengan penuh antusiasme. Selain itu, mereka menyadari betul bahwa tantangan dunia pendidikan kini semakin kompleks.
Oleh karena itu, pemateri acara, Hardi Santosa, mengajak para pendidik melakukan refleksi mendalam. Beliau menekankan pentingnya membangun ikatan emosional dengan para murid. Sebab, pengalaman yang berkesan akan terus melekat dalam ingatan siswa sepanjang hayat.
Di sisi lain, tantangan terbesar guru Muhammadiyah era AI saat ini adalah menghadapi karakter Generasi Z dan Alpha. Generasi digital ini sangat membutuhkan komunikasi yang autentik. Oleh sebab itu, mereka memerlukan ruang aman untuk berpendapat sehingga pendekatan mengajar konvensional harus segera berubah.
Strategi Komunikasi dan Framework Guru Inspiratif
Selanjutnya, Hardi memperkenalkan prinsip penting dalam berkomunikasi dengan siswa era digital. Pendidik harus membangun koneksi sebelum mengoreksi kesalahan murid. Di samping itu, pemahaman mendalam wajib mendahului setiap penilaian.
“Guru harus menjadi pendengar aktif yang empati,” ujar Hardi di hadapan peserta. Akibatnya, pendekatan ini terbukti efektif dalam membangun hubungan belajar yang sehat dan bermakna.
Bahkan, acara ini juga mengenalkan kerangka kerja Framework Guru Inspiratif lima dimensi. Konsep ini mencakup Grow, Understand, Relate, Uplift, dan Inspire. Dengan demikian, kerangka tersebut menjadi panduan praktis bagi guru Muhammadiyah era AI agar tetap relevan.
Hasilnya, pendidik masa kini dituntut untuk terus belajar dan memahami kebutuhan murid. Mereka tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga wajib memberikan dukungan moral serta teladan nyata.
Akhirnya, pada sesi penutup, peserta diajak menjadi deep teacher atau guru yang mengajar sepenuh hati. Kehadiran pendidik yang mencerahkan tentu akan membuat suasana belajar terasa lebih menyenangkan.
Pada akhirnya, langkah konkret ini membuktikan komitmen bersama dalam meningkatkan mutu pendidikan. Guru Muhammadiyah era AI terbukti siap beradaptasi tanpa menghilangkan nilai kemanusiaan dan kepedulian.
Kontributor: Hendra
Editor: Akmal



