Heboh Tren Kelas Tanpa Guru, Akankah AI Menggantikan Guru di Indonesia? Pakar Tegaskan Ini
PWMJATENG.COM, SEMARANG — Eksperimen radikal “kelas tanpa guru” yang mulai berjalan di Inggris kini membayangi masa depan dunia pendidikan tanah air. Fenomena ini memicu diskusi panas para pakar di Semarang mengenai potensi AI menggantikan guru dan batasan etis teknologi di ruang kelas.
Pakar pendidikan Asia Tenggara, Dr. Ho Boon Tion dari Marshall Cavendish Education (MCE), memantik diskusi hangat ini dalam International Conference & Agreement Signing di Semarang. Beliau memutar video eksperimen “Teacherless Classroom” atau kelas tanpa guru yang saat ini sedang berlangsung di Inggris. Fenomena global tersebut langsung memunculkan pertanyaan besar mengenai nasib dunia pendidikan di tanah air.
“Kita melihat eksperimen kelas tanpa guru di Inggris menggunakan kecerdasan buatan. Namun, apakah AI menggantikan guru secara total? Jawabannya adalah tidak, karena teknologi tidak memiliki empati dan nilai kemainan,” ujar Dr. Ho Boon Tion di hadapan ratusan kepala sekolah Muhammadiyah.
Tantangan AI dalam Pembelajaran Modern
Kekhawatiran mengenai dampak AI bagi siswa memang menjadi tantangan pendidikan modern yang nyata. Banyak pihak cemas teknologi ini membuat siswa malas berpikir kritis. Murid kini bisa dengan mudah menyelesaikan seluruh tugas sekolah hanya dalam hitungan detik menggunakan platform digital.
Meski demikian, sekolah tidak bisa lagi menghindari integrasi AI dalam sistem pembelajaran. Dr. Ho menegaskan bahwa teknologi ini telah menjadi alat untuk bertahan hidup (survival tool) di era digital. Langkah terbaik bukanlah melarangnya, melainkan mengubah cara pandang para pendidik dalam mengajar.
“Guru bukan ChatGPT yang harus tahu semua jawaban di dunia. Guru adalah seorang manusia yang bertugas membimbing siswa mengambil keputusan terbaik berbasis nilai,” kata Dr. Ho menekankan pentingnya growth mindset AI.
Membangun Growth Mindset AI di Jawa Tengah
Menyikapi gelombang teknologi ini, Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) PWM Jawa Tengah bergerak cepat. Mereka menggandeng MCE untuk menyiapkan ekosistem teknologi pendidikan modern yang tepat guna. Kerja sama ini berfokus pada pelatihan guru agar mampu mengendalikan teknologi, bukan justru takluk olehnya.
Langkah strategis tersebut bertujuan untuk memastikan masa depan profesi guru tetap kokoh di tengah disrupsi digital. Pengelola sekolah mendorong guru di Jawa Tengah untuk naik kelas menjadi fasilitator pembelajaran yang inspiratif. Mereka kini belajar merancang metode mengajar unik yang tidak bisa robot pintar replikasi.
“Teknologi yang pintar membutuhkan pengguna yang pintar pula. Smart technology begins with smart users,” tutur Dr. Ho memungkasi penjelasannya mengenai formula integrasi teknologi di ruang kelas.
Kontributor: Medkom PWM Jateng
Editor: Alafasy



