Pakar Komunikasi: AI Tak Bisa Gantikan Insting dan Empati Jurnalis di Lapangan

PWMJATENG.COM, SEMARANG – Kecanggihan Kecerdasan Buatan (AI) memang berkembang pesat dalam industri media, namun teknologi ini ditegaskan tidak akan pernah bisa menggantikan empati dan insting seorang jurnalis di lapangan. Hal tersebut disampaikan oleh pakar komunikasi, Dr. Edi Santoso, dalam gelaran Pesantren Jurnalistik Muhammadiyah Jawa Tengah di Gedung BPSDMD, Kota Semarang, Jumat (6/3).
Dalam pemaparannya, Dr. Edi menyoroti bahwa meskipun AI mampu memproses data skala besar dengan kecepatan kilat, mesin tetaplah sekadar alat prediksi bahasa yang hampa akan rasa.
“AI generatif hanyalah alat, bukan pengganti peran manusia dalam merasakan realitas sosial. Mesin tidak memiliki insting kewartawanan yang autentik. Jurnalisme adalah tentang rasa dan konteks manusiawi yang tidak dimiliki oleh algoritma,” tegas Dr. Edi di hadapan 110 jurnalis muda Muhammadiyah.
Lebih lanjut, Dr. Edi memperingatkan adanya fenomena “AI Hallucination” atau halusinasi AI, di mana mesin sering kali memproduksi informasi palsu yang dikemas dengan bahasa yang tampak meyakinkan. Hal ini menjadi tantangan besar bagi integritas informasi di ruang publik.
Ia menekankan bahwa akuntabilitas etika dan hukum tetap berada sepenuhnya di tangan manusia. “Mesin tidak dapat dituntut secara hukum atas penyebaran berita bohong. Oleh karena itu, jurnalis memiliki tanggung jawab moral untuk melakukan verifikasi ketat terhadap setiap produk tulisan yang dihasilkan oleh mesin. Jangan sampai kita didikte oleh alat,” tambahnya.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PWM Jawa Tengah ini bertujuan untuk mendudukkan porsi teknologi secara tepat. Dalam ekosistem digital saat ini, jurnalis dituntut tetap menjadi “pilot utama” yang memegang kendali penuh atas narasi dan kebenaran.
Penggunaan AI harus diletakkan sebagai asisten yang membantu efisiensi riset, tanpa sedikit pun mengurangi esensi sumpah profesi wartawan, yaitu: Verifikasi adalah harga mati.
Melalui Pesantren Jurnalistik ini, Muhammadiyah Jawa Tengah berkomitmen mencetak kader digital yang melek teknologi namun tetap teguh memegang prinsip kejujuran jurnalisme berkemajuan.
Kontributor: Adib Abyan Alb | Humas
Editor: Al-Afasy



