Berita

Alumni IPM Jawa Tengah Dorong Penguatan Tata Kelola dan Transformasi Kader IPM

PWMJATENG.COM, Kebumen — Wacana penataan ulang tata kelola organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) kembali menguat. Isu ini muncul dalam forum Temu Alumni PW IPM–IRM Jawa Tengah di Universitas Muhammadiyah Gombong (Unimugo). Selain ajang silaturahmi, forum ini menjadi ruang refleksi kritis untuk mengevaluasi efektivitas kepemimpinan dan keberlanjutan program IPM.

Salah satu isu strategis yang muncul adalah usulan perubahan masa jabatan kepemimpinan IPM, terutama di tingkat wilayah dan pusat. Forum secara tegas mendorong agar masa kepemimpinan kembali menjadi tiga tahun. Sebelumnya, organisasi menjalankan periodesasi dua tahun. Para alumni menilai rentang waktu dua tahun sering kali tidak cukup untuk menghasilkan kerja organisasi yang matang dan berdampak.

Evaluasi Masa Kepemimpinan

Peserta forum berpendapat bahwa masa jabatan dua tahun habis hanya untuk konsolidasi internal. Pengurus sering kali terjebak pada tahap adaptasi dan penataan struktur. Akibatnya, berbagai program strategis yang bervisi jangka menengah gagal mencapai tujuan maksimal. Kondisi ini berpotensi melemahkan IPM sebagai organisasi kader yang menuntut kesinambungan gerakan.

Khafid Sirotudin menegaskan bahwa perubahan ini bukan sekadar urusan teknis administratif. Menurutnya, ini adalah ikhtiar untuk memperkuat tata kelola organisasi agar lebih kokoh.

“Jika IPM ingin melahirkan kepemimpinan kuat, maka organisasi butuh waktu memadai. Periodesasi tiga tahun memberi ruang utuh bagi perencanaan hingga evaluasi program,” tegas Khafid.

Menjaga Jati Diri dan Orientasi Nilai

Selain masalah durasi, Khafid menekankan pentingnya menjaga jati diri IPM sebagai organisasi pelajar. Ia mengingatkan agar IPM tidak larut dalam arus kepentingan jangka pendek.

“IPM harus tetap berdiri di atas nilai keilmuan, etika, dan dakwah. Organisasi ini lahir untuk membangun kesadaran pelajar, bukan untuk kehilangan arah,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengusulkan agar orientasi gerakan IPM kembali ke Yogyakarta sebagai pusat historis. Baginya, Yogyakarta adalah ruang tumbuhnya tradisi intelektual dan idealisme pelajar. Pengembalian ini bukan soal lokasi fisik, melainkan soal penguatan nilai-nilai kritis dan independen.

Transformasi Kader untuk Amal Usaha

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Dr. Ibnu Hasan, M.Ag., turut memberikan pandangan terkait kaderisasi. Ia menyebut IPM adalah lumbung utama kader Persyarikatan Muhammadiyah. Saat ini, banyak Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) menanti kehadiran kader muda yang siap memimpin.

“Kader IPM harus bertransformasi secara sungguh-sungguh. Anda tidak boleh hanya aktif berorganisasi, tetapi juga harus matang secara ilmu dan mental,” tegas Ibnu Hasan.

Ia berharap transformasi kader IPM mengarah pada penguasaan bidang strategis. Dengan tata kelola yang kuat dan orientasi jelas, IPM akan melahirkan generasi yang siap mengelola amal usaha serta berkontribusi nyata bagi masyarakat luas.

Kontributor: Ilyas
Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/