Kaji Spirit Filantropi Al-Ma’un, Ikhwanushoffa: Jangan Sampai Biaya Resepsi Lebih Mahal dari Sedekah
PWMJATENG.COM, Kudus – Memasuki momentum spiritual Amalan Bulan Rajab 2026, Sekretaris Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Ikhwanushoffa, mengajak warga Muhammadiyah untuk menghidupkan kembali Teologi Al-Ma’un KH Ahmad Dahlan. Hal tersebut disampaikannya dalam Kajian Ahad Pagi Pemuda Muhammadiyah Kudus yang bertempat di Aula Muhammadiyah Kabupaten Kudus, Minggu (4/1/2026).
Ikhwanushoffa menjelaskan bahwa inovasi besar yang dilakukan Kiai Dahlan berakar dari pengajaran Surah Al-Ma’un yang diulang selama berbulan-bulan. Ciri khas pengikut Al-Ma’un dalam Filantropi Islam Modern adalah selalu memikirkan porsi zakat dan sedekah setiap kali menerima rezeki, berapa pun jumlahnya.
Poin menarik muncul saat ia menyoroti fenomena sosial mengenai ketimpangan biaya resepsi vs sedekah. Menurutnya, bukti nyata seseorang mencintai Al-Ma’un adalah saat pengeluaran untuk kesenangannya setara atau bahkan lebih kecil dari sedekahnya.
Baca Juga: Kajian Ahad Pagi PCM Blora, Ikhwanushoffa Tekankan Semangat Al-Ma’un dan Al-‘Asr
“Untuk resepsi pernikahan habis 50 juta, sudah pernah belum sedekahnya juga 50 juta? Resepsi itu pesta untuk senang-senang. Keluar uang banyak berani, tapi untuk sedekah sedikit, apa tidak malu? Padahal yang disebut pelit itu adalah mereka yang sedekahnya sedikit, bukan yang resepsinya sederhana,” seloroh Ikhwanushoffa yang memicu tawa jemaah.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya membentuk Kader Militan Muhammadiyah melalui urutan syariat yang benar. Ia mengkritik pola pendidikan yang melompati ajaran berbagi. “Sebelum dilatih manasik haji, anak-anak harus dilatih berbagi, infaq, dan sedekah agar tumbuh menjadi pribadi yang lumo (dermawan),” tambahnya.
Baca Juga: Ratusan Jemaah Padati Kajian Ahad Pagi PCM Kandangan di Masjid Nurul Iman
Mengangkat Kisah Inspiratif KH Ahmad Dahlan, Ikhwanushoffa menceritakan ketegasan Kiai Dahlan saat menegur Ki Bagus Hadikusumo yang nyaris batal berdakwah karena ketinggalan kereta. Pelajaran ini menekankan bahwa komitmen dakwah tidak boleh bergantung pada fasilitas atau kenyamanan pribadi.
“Dulu Kiai Dahlan tetap fokus berdakwah meski anaknya sakit parah. Sekarang transportasi sudah mudah, jangan sampai hujan atau izin istri jadi alasan tidak berangkat kajian,” tegasnya sebagai penutup untuk membakar semangat Jihad Fii Sabilillah para jemaah.
Kontributor: Rizky Maradona
Editor: Al-Afasy



