Takziah Pak Sugeng: Sesepuh Muhammadiyah Mrebet dan Tokoh Panutan Masyarakat

Takziah Pak Sugeng: Sesepuh Muhammadiyah Mrebet dan Tokoh Panutan Masyarakat
Takziah Pak Sugeng: Sesepuh Muhammadiyah Mrebet dan Tokoh Panutan Masyarakat

PWMJATENG.COM, PURBALINGGA –  KH. Sugeng Budi Utomo merupakan tokoh agama, tokoh masyarakat, imam Masjid Jami’ Nurul Huda Pengalusan, sekaligus ayah dan panutan masyarakat dusun Goa Lawa, Pengalusan. Sebuah desa yang berada di bawah kaki Gunung Slamet, letaknya sekitar 16 km sebelah barat laut dari kabupaten Purbalingga. Beliau juga merupakan sesepuh Muhammadiyah di Cabang Mrebet, Purbalingga.

Pak Sugeng, inilah nama yang kami ketahui sejak kecil. Aktifitas beliau tidak pernah lepas dari mengajar, mendidik, mengayomi, dan membimbing masyarakat dalam pengamalan ajaran Islam. Beliau pernah menjadi pengawas sekolah, dan bertugas hingga kecamatan Bobotsari dan Kertanegara.

Setelah pensiun, beliau terlihat lebih senang bercocok tanam dan sesekali menghadiri pertunjukkan seni wayang kulit. Selain itu, biasanya ketika air ledeng untuk Mushola berhenti mengalir, berbekal tas kecil berisi perlengkapan sederhana untuk memperbaiki kerusakan pipa paralon, beliau menyusuri kebun memperhatikan barangkali ada pipa yang bocor sampai menuju mata air Sungai Bacok di RT sebelah.

Mushola At-Taqwa, tempat masyarakat menunaikan kewajiban yang lima waktu menjadi saksi betapa beliau adalah orang yang sangat dihormati dan dimuliakan. Mushola yang rapi tersebut terletak tepat di seberang jalan depan rumahnya, kini bentuknya nampak seperti miniatur Masjid Jami’ Nurul Huda sebelum atapnya diganti dengan kubah.

Tubuhnya tegap, tatapannya tajam, serta suaranya yang besar menambah kewibawaan diri beliau. Sudah menjadi budaya, setiap kali usai salat Idul Fitri rumah beliau menjadi tempat utama yang dikunjungi untuk dimintai maaf oleh hampir setiap warga.

Beliau merupakan orang yang sangat menyayangi istrinya. Bu Siti Mahiroh, ibarat Ibu Nyai di dalam lingkungan Pesantren. Ketika itu Bu Siti sakit, menurut beberapa informasi, setiap usai mengimami salat di Mushola beliau masuk ke kamar dan mendekapnya, seolah tidak mau kehilangan. Syukurnya, beberapa tahun sebelum kondisi Ibu menurun sudah bersama-sama menyempurnakan rukun Islam, menunaikan ibadah haji.

BACA JUGA  Sarapan Sehat, Ternyata Tumbuhkan Generasi Berkeunggulan

Namun takdir sudah tertulis, istrinya harus pergi terlebih dahulu, sekitar penghujung tahun 2019. Suasana duka menyelimuti keluarga, sosok ibu yang senang membantu anak yatim juga seorang guru agama ini wafat dan belum sempat menyaksikan kebahagiaan putri bungsunya menikah. Sejak saat itulah kondisi kesehatan Pak Sugeng berangsur menurun, namun aktivitas berdakwah tidak lekas berhenti.

Beliau memiliki kajian rutin setiap Selasa sore menjelang Asar, yang dikenal dengan pengajian Slasahan. Pengajian ini biasanya diikuti oleh ibu-ibu di madrasah samping rumahnya. Sebelum istrinya wafat, pengajian ini bahkan dihadiri oleh belasan jamaah dari desa tetangga.

Saya termasuk yang sangat kehilangan Ibu Siti, beliau sangat banyak membantu secara materi maupun moril saat awal-awal merantau untuk melanjutkan pendidikan ke Yogyakarta. Setiap kali pulang kampung, saya sering diminta mampir ke rumah sekedar disuguhi teh manis, mendoan dan menanyakan kabar. Begitupun ketika kembali berangkat, beberapa lembar uang seratusan ribu beliau sisipkan ke saku, “untuk bekal perjalanan,” katanya.

Nasihat tentang amal shalih, menjaga silaturahim dan akhlak mulia menjadi materi kajian yang sering diajarkan oleh Pak Sugeng. Seringkali suaranya sesak menahan haru dan sedih ketika memimpin takbir di awal Subuh bulan Syawal. Ditahannya air mata berharap tidak mau berpisah dengan kemuliaan Ramadhan, ditambah lagi saat mengingat istri kesayangannya sudah tidak lagi bisa menemani beliau.

Selain membina masyarakat, beliau juga aktif dan pernah tercatat sebagai Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Mrebet. Satu hal yang tidak boleh dilupakan, meskipun di masa kepemimpinan beliau, PCM Mrebet belum mampu membangun aset Amal Usaha tertentu, namun secara moril, beliau telah menjaga eksistensi Muhammadiyah di Kecamatan Mrebet. Selain itu, secara pribadi saya juga merasa bahwa beliau telah membangun Sumber Daya Manusia (SDM) untuk meneruskan estafet persyarikatan.

Saat itu, selepas lulus dari SMP saya diantarkan ke SMK Muhammadiyah Bobotsari. Dengan mengendarai sepeda motor Mega Pro, dibonceng untuk mendaftar di sekolah tersebut. Ayah ideologis, barangkali ini juga patut menjadi catatan.

BACA JUGA  STIE Muhammadiyah Cilacap dan Lazismu Akan Berikan Beasiswa Filantropi

Kenangan lain bersama beliau ialah kerendahan hatinya berkenan diajak oleh paman saya datang menghadiri wisuda sarjana S1 di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Tentunya di tengah kesibukan dan aktivitasnya tersebut masih menyempatkan datang, untuk saya yang bukan anak maupun kerabat. Bahkan, usai acara beliau mengajak saya untuk berfoto dengan sewa background. Tak ayal, uang Rp. 300.000,- dari dompet beliau melayang. Kini foto tersebut menempel rapi di atas pintu rumah. Semoga beliau diberikan Rahmat yang melimpah dari Allah SwT.

Memang, saya ini sering merepotkan beliau. Terakhir, saya menginginkan seorang gadis untuk dinikahi, dan beliau inilah yang matur dan menyampaikan maksud tersebut kepada walinya. Namun, sayang seribu sayang, belum juga tiba hari akad yang dinantikan, beliau telah mendahului kami untuk selama-lamanya.

Ba’da Asar, 7 Dzulhijjah 1442 H, tiga hari menjelang idul adha 1442 H, beliau dikabarkan meninggal dunia di rumahnya, Goa Lawa, Pengalusan Rt 2/2, Mrebet, Purbalingga. Setelah beberapa hari menjalani perawatan akibat sakit yang beliau alami. Sebelumnya ibu saya menelpon dan mengabarkan tentang kondisi Pak Sugeng dengan isak tangis, sama persis ketika beliau mengabarkan kondisi Ibu Siti di rumah sakit.

Tidak menyangka, kebersamaan di malam-malam terakhir bulan Ramadhan 1442 H kala itu merupakan majelis terakhir kami dengan beliau. Saat itu saya menyaksikan beliau memberikan beberapa lembar fotokopian yang berisi Doa Kamilin kepada Bapak Manto dan Bapak Muntako, rekan sekaligus murid senior beliau sambil berpesan agar dihafalkan. “Umur tiada yang tahu, boleh jadi Ramadhan tahun depan kita sudah tidak lagi bertemu”, kira-kira demikian ungkapan beliau.

Setelah bertadarus, membaca Al-Quran kami duduk sejenak menghabiskan segelas kopi hitam di teras Mushola.

BACA JUGA  SD MPK Banyudono Gelar Workshop Pelayanan Prima

Doa kamilin merupakan doa yang biasa beliau baca setelah salat tarawih, agar diberikan keimanan yang sempurna, menegakan segala kewajiban, menjaga salat, menunaikat zakat, memohon Ridho, ampunan, serta hidayah. Juga ahlak yang mulia, zuhud, kenikmatan negeri akhirat, dan sebagainya.

Bukan bermaksud membandingkan, namun mengutip pernyataan beberapa jamaah, bahwa manakala mushola yang lain biasanya jamaah banyak berkurang di saat-saat terakhir Ramadhan, tidak bagi Mushola At-Taqwa. Jamaah tetap antusias, sekalipun berkurang namun tidak begitu banyak, dan shaf tetap rapat.

Namun sayangnya pasca Ramadhan kembali sepi. Inilah yang masih menjadi catatan dan tantangan, sekaligus muhasabah bersama. Semoga ke depan, di mushola manapun semangat beribadah tetap terjaga baik di luar bulan Ramadhan, apalagi di dalamnya.

Menara Masjid adalah amal jariyah beliau di penghujung hayat perjuangan dakwahnya. Beliau menyampaikan bahwa di antara hal yang dapat dijadikan sebagai barometer untuk mengukur kualitas keislaman masyarakat ialah dengan mengajak mereka membangun serta memperbaiki rumah ibadah, dalam hal ini masjid.

Masjid Jami’ Nurul Huda Desa Pengalusan, yang mana beliau menjadi imam tetap tersebut, pernah dipuji oleh guru saya tentang keindahan desain dan nuansanya saat almamater, SMK Muhammadiyah Bobotsari mengadakan Perkemahan (Persami) di lapangan depan masjid.

Kini, setelah ditambah adanya menara semakin menambah wibawa syiar Islam di wilayah Pengalusan, Mrebet. Semoga tetap begitu dan terus dilanjutkan oleh kader-kader muda di dalamnya. Bahkan saya pribadi memimpikan ia menjadi Islamic Centernya Desa Pengalusan kelak.

Sebutan yang baik adalah umur kedua bagi manusia, insyaallah tulisan ini menjadi saksi bahwa beliau orang yang baik. Doa kami semoga almarhum diberikan limpahan Rahmat dan Maghfirah, dilapangkan dan diterangi kuburnya. Inilah takziyah saya untuk beliau, semoga kami para generasi muda mampu mewarisi ilmu dan semangat perjuangannya dalam membina masyarakat.

Kontributor Diyan

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts