Sesajen: Doa Simbolik dalam Tradisi Jawa

Oleh : Ardian Yuniarko, S.E.,M.M. (Branding Consultant, Pegiat UMKM Sayuran, Pengurus LP-UMKM PWM Jateng)
PWMJATENG.COM, Tradisi sesajen dalam budaya Jawa selalu berada di wilayah abu-abu perdebatan: antara budaya dan akidah, antara simbol dan keyakinan. Sebagian memaknainya sebagai kearifan lokal, sebagian lain menolaknya sebagai praktik yang rawan syirik. Namun perdebatan ini sering kali berhenti pada permukaan (pada benda) tanpa masuk ke wilayah yang lebih dalam: makna, kesadaran, dan sistem tanda.
Di sinilah pendekatan semiotika menjadi relevan. Sesajen bukan sekadar objek ritual, melainkan bahasa simbolik (sebuah teks budaya yang perlu dibaca, bukan langsung dihakimi).
Dalam semiotika, kebudayaan adalah jaringan tanda. Sesajen terdiri dari penanda (benda-benda ritual) dan petanda (makna yang dilekatkan). Masalah muncul ketika penanda diperlakukan sebagai tujuan, bukan sebagai sarana.
Tumpeng, ingkung, air, bunga, dan hasil bumi secara denotatif hanyalah makanan dan benda alam. Namun secara konotatif, ia menyimbolkan: syukur atas rezeki, kepasrahan manusia, kesucian niat, serta harmoni manusia dengan alam dan Tuhan.
Kesalahan tafsir terjadi ketika simbol dibaca secara literal, ketika sesajen dianggap sebagai “persembahan” kepada selain Tuhan. Di titik inilah kritik teologis menjadi sah.
Menata Makna, Bukan Memutus Tradisi
Sejarah Islam di Jawa menunjukkan bahwa Walisongo tidak memulai dakwah dari pemutusan simbol, tetapi dari penataan makna. Tradisi selamatan dan sesajen tidak dihapus, melainkan diarahkan ulang: doa ditujukan kepada Allah, mantra diganti tahlil dan shalawat, dan makanan dibagikan sebagai sedekah.
Bagi Walisongo, masalah bukan pada bentuk budaya, tetapi pada orientasi batin. Tauhid dijadikan kompas utama dalam membaca dan menafsirkan simbol. Inilah strategi dakwah kultural: menjaga kesinambungan budaya sambil meluruskan keyakinan.
Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) membawa pembacaan yang lebih eksistensial. Ia menegaskan bahwa Tuhan tidak membutuhkan benda atau ritual, tetapi kejujuran dan kesadaran manusia. Dalam perspektif Cak Nun, sesajen bukan wilayah akidah, melainkan wilayah bahasa rasa.
Sesajen berfungsi menata batin, mengajak manusia berhenti, eling, rendah hati, dan sadar posisi di hadapan Tuhan dan alam. Selama tidak diyakini memiliki kekuatan otonom, sesajen hanyalah alat pedagogi spiritual atau doa tanpa kata.
Cak Nun juga mengkritik dua ekstrem, mereka yang mengkultuskan simbol tanpa makna, dan mereka yang membenci simbol dengan ego kebenaran. Keduanya sama-sama kehilangan kedewasaan spiritual.
Berbeda dengan pendekatan kultural, Muhammadiyah memandang sesajen dengan kehati-hatian tinggi. Fokusnya bukan pada warisan budaya, melainkan pada kejelasan akidah. Muhammadiyah khawatir bahwa simbol yang ambigu mudah bergeser menjadi keyakinan literal di masyarakat awam.
Dalam bahasa semiotika, Muhammadiyah mencurigai ketidakstabilan makna tanda. Karena itu, Muhammadiyah memilih jalan penyederhanaan simbol: doa langsung kepada Allah, sedekah nyata, dan amal sosial yang jelas rujukan syar’inya. Nilai syukur dan kebersamaan tetap dijaga, tetapi mediumnya diubah.
Jika disandingkan, beberapa perspektif tadi tidak saling meniadakan, melainkan saling mengoreksi.
Semiotika mengajarkan, simbol harus dibaca, bukan disembah.
Walisongo menegaskan, budaya boleh hidup, asal maknanya ditauhidkan.
Cak Nun mengingatkan, Tuhan membaca rasa, bukan benda. Sedangkan Muhammadiyah memperingatkan, simbol yang ambigu bisa merusak tauhid.
Perbedaannya bukan pada tujuan, melainkan pada strategi pengelolaan simbol.
Dewasa dalam Membaca Tradisi
Sesajen bukan soal benar atau salah secara mutlak, melainkan soal kesadaran makna. Ia bisa menjadi doa simbolik yang mendidik rasa, atau menjadi praktik bermasalah jika diyakini secara keliru. Ia bisa dipertahankan, ditransformasikan, atau ditinggalkan. Tetapi semua itu harus lahir dari pemahaman, bukan prasangka.
Pada akhirnya, sebagaimana diajarkan Islam dan kebijaksanaan Jawa: yang paling berbahaya bukan simbol, melainkan hati yang tidak jujur dalam bertauhid.



