Sabbardi : Menjaga Budaya Senior-yunior dan Egaliter dalam Organisasi

Muhammad Sabbardi
Muhammad Sabbardi

PWMJATENG.COM – Tulisan ini dibuat bukan bermaksud ingin memihak kepada orangnya atau kelompok pendukungnya, tapi lebih berorientasi kepada nilai kebenaran yang dijunjung tinggi dan diterapkan, sepanjang si pembawa nilai masih konsisten dengan nilai-nilai luhur yaitu Budaya Senior-Junior dan Kepemimpinan Egaliter.

Penulis terhenyak, saat seorang kawan di lingkungan organisasi mengatakan, “Usia dan pengalaman mu jika diruntut masik jauh sekali, bahkan kemampuanmu mungkin diragukan. Masih banyak senior di atasnya.”

Kalimat tersebut memang dilontarkan dalam suasana santai dan penuh canda, tetapi penulis menangkap sebuah pesan yang tersirat darinya. Pesan dari seorang senior yang biasanya kalimatnya banyak diikuti oleh junior-juniornya.

Penulis merasakan ada kesan sombong seorang senior kepada juniornya. Penulis pun menangkap kesan bahwa seorang senior tidak pernah mau memberikan kesempatan juniornya. Apakah kesan yang penulis tangkap itu hanyalah perasaan penulis semata, atau memang begitukah ‘takdir’ seorang junior?

Penulis pun lalu bertanya dalam hati, “Siapa yang sebenarnya disebut senior di organisasi? Apakah orang yang lebih tua, lebih banyak pengalamanya, atau yang lebih punya kemampuan dibanding lainnya?” Lebih lanjut, penulis pun bergumam dalam hati, “Bagaimana sebaiknya kita mendudukkan perkara senioritas di organisasi?”

Awal Mula Senioritas


Jika kita menengok Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), senior (di tempat organisasi) ternyata memiliki arti sebagai seseorang yang lebih matang dalam pengalaman dan kemampuan dibandingkan junior. Para senior biasanya memiliki anggapan bahwa mereka adalah orang yang lebih tinggi dalam segala hal, baik itu dari segi usia, pangkat, kematangan pengalaman, dan kemampuan.

BACA JUGA  Sempat Tertunda 11 Bulan, PCPM Batang Sukses Dilantik

Para senior ini sepertinya tidak dapat melihat atau mungkin mengingkari, bahwa dirinya terkadang perlu belajar dari para juniormya. Bahkan, jika ada junior yang kemampuan dan keaktifannya di atas mereka dalam berorganisasi, maka para senior biasanya melakukan berbagai hal yang menurut penulis justru lucu, yaitu menjelek-jelekkan junior mereka hingga menghalangi berkarir.

Budaya Senior-Junior dan Egaliter dalam Organisasi

Menurut penulis, senioritas sebagai akibat salah kaprah dari pemaknaan budaya masih memiliki dampak buruk bagi lingkungan sekitarnya. Ajaran dari masa sekolah yang menanamkan pemahaman bahwa kakak kelas selalu lebih segala-galanya dibandingkan adik kelasnya adalah sebuah ajaran yang perlu diluruskan.Senioritas belum dapat dipahami sebagai suatu hal yang menyejukkan, yang menghasilkan hal-hal positif dan produktif. Senioritas masih memiliki nuansa arogansi yang akhirnya membuahkan dendam. Sudah saatnya para senior yang memiliki usia lebih matang ataupun kemampuan dan pengalaman lebih tinggi menyadari akan dampak yang dihasilkan dari budaya senioritas tersebut.

BACA JUGA  Inovatif Kreatif dalam Pengembangan Mutu Pendidikan Berkemajuan

Sejatinya senior berkewajiban membimbing juniornya, sebaliknya penghormatan dan penghargaan junior kepada senior tidak hanya ditunjukkan melalui sikap mereka yang selalu mematuhi perkataan atau perintah dari senior, namun juga berbicara menggunakan bahasa yang sopan. Sebalinya seorang senior akan selalu menggunakan ragam bahasa biasa kepada juniornya. Seorang yang dianggap sebagai senior memiliki kewajiban untuk mengajari juniornya, dan sebaliknya junior harus menghormati perintah yang diberikan oleh seniornya. Secara konkrit, budaya senior-junior ini tercermin di antaranya di lingkungan pendidikan, grup atau organisasi, pekerjaan dan keluarga. Selain lingkungan keluarga, hubungan senior-junior ditunjukkan melalui sikap dan tindakan seorang senior untuk membantu, menjaga, dan membimbing juniornya. Sebaliknya, junior juga harus mematuhi bimbingan, instruksi, dan perintah dari senior mereka. Selain itu, junior juga harus menghormati dan menghargai senior mereka melalui penggunaan bahasa yang sopan, dan berhati-hati dalam bertutur kata.

Sudah selayaknya senioritas dimaknai lebih egaliter, di mana senior dan junior saling menghormati satu sama lain. Tidak perlu menganggap seseorang lebih dari orang lain karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna.

Secara pribadi, penulis menempatkan diri sebagai junior dalam organisasi sangat menjujung tinggi, hormat dan patuh kepada senior karena disadari bersama banyak ilmu dan dedikasi yang perlu kita timba pengalaman dari para senior. Sebaliknya sebagai senior, penulis juga sangat menghormati dan merangkul junior untuk bergandengan bersama dalam hal yang lebih konstruktif dan kebaikan. Karena hakikatnya kita adalah egaliterianisme (red: sederajat) sebagai manusia dan kencenderungan berpikir bahwa seseorang harus diperlakukan ‘sama’ dalam dimensi agama, politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

BACA JUGA  Sasana Tinju Tempat Chris Jhon Berlatih, Diketuai Pemuda Muhammadiyah

Budaya egaliter merupakan suatu sikap yang ditampilkan oleh seseorang baik sikap individu maupun dalam memimpin kelembagaan. Suatu sikap yang selalu menampilkan derajat yang sama dan setingkat, berdiri sama tinggi duduk sama rendah, bisa bersama-sama seiring sejalan, bisa saling menghargai, saling mencintai, selalu duduk maupun berjalan bersama-sama, mau berkorban untuk orang lain, sahabat, dan semua orang dapat menikmati apa yang menjadi haknya sebagai warga negara serta lebih bersifat demokratis.

Dengan demikian akan tercipta suasana organisasi yang penuh dengan kearifan, kelembutan, saling mengingatkan, dan saling berbagi pengalaman. Saat kondisi itu tercapai, maka kebutuhan yang dominan justru adalah soliditas dan solidaritas di antara sesama manusia di organisasi.

Total
4
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts