Nisfu Sya’ban: Antara Semarak Ritual dan Tuntunan Sunnah

Oleh : Dr. H Ali Trigiyatno, M.Ag
Ada pemandangan kontras saat memasuki malam 15 Syakban di sebagian masjid-masjid di sekeliling kita. Sebagian ada kegiatan yang cukup semarak dilakukan jamaah untuk menyambutnya dengan berbagai ritual, namun sebagian masjid tidak tampak ada kegiatan khusus laksana malam-malam selainnya. Masjid-masjid Muhammadiyah tentu masuk yang kategori kedua di mana tidak ada sambutan atau kegiatan khusus buat menyambutnya.
Memang dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama sehubungan menyikapi datangnya nishfu Syakban. Sebagian kalangan meyakini ada keutamaan tersendiri dengan malam tersebut dan mereka mengadakan kegiatan khusus untuk itu. Namun sebagian lagi menganggap tidak ada keistimewaan khusus, sehingga tidak perlu ada sambutan atau kegiatan ritual tersendiri.
Asal muasal peringatan nishfu Syakban berasal dari sebgaian Tabi’in di Syam. Artinya di zaman Nabi dan sahabat belum ada kegiatan seperti ini. Hal ini seperti ditulis oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Latha`if al-Ma’arif sebagai berikut :
كان التابعون من أهل الشام كخالد بن معدان ومكحول و لقمان بن عامر و غيرهم يعظمونها و يجتهدون فيها في العبادة و عنهم أخذ الناس فضلها و تعظيمها و قد قيل أنه بلغهم في ذلك آثار إسرائيلية فلما اشتهر ذلك عنهم في البلدان اختلف الناس في ذلك فمنهم من قبله منهم وافقهم على تعظيمها منهم طائفة من عباد أهل البصرة و غيرهم و أنكر ذلك أكثر علماء الحجاز منهم عطاء و ابن أبي مليكة و نقله عبد الرحمن بن زيد بن أسلم عن فقهاء أهل المدينة و هو قول أصحاب مالك و غيرهم و قالوا : ذلك كله بدعة
و اختلف علماء أهل الشام في صفة إحيائها على قولين : أحدهما : أنه يستحب إحياؤها جماعة في المساجد كان خالد بن معدان و لقمان بن عامر و غيرهما يلبسون فيها أحسن ثيابهم و يتبخرون و يكتحلون و يقومون في المسجد ليلتهم تلك و وافقهم إسحاق بن راهوية على ذلك و قال في قيامها في المساجد جماعة : ليس ببدعة نقله عنه حرب الكرماني في مسائله و الثاني : أنه يكره الإجتماع فيها في المساجد للصلاة و القصص و الدعاء و لا يكره أن يصلي الرجل فيها لخاصة نفسه و هذا قول الأوزاعي إمام أهل الشام و فقيههم و عالمهم و هذا هو الأقرب إن شاء الله تعالى) لطائف المعارف فيما المواسم العام من الوظائف (ص: 151)
Para tabi‘in dari negeri Syam seperti Khalid bin Ma‘dan, Makḥul, Luqman bin ‘Āmir, dan lainnya, mereka mengagungkan malam Nisfu Sya‘ban serta bersungguh-sungguh dalam beribadah pada malam itu. Dari merekalah orang-orang kemudian mengambil pemahaman tentang keutamaan dan pengagungan malam tersebut.
Dikatakan bahwa hal itu sampai kepada mereka melalui riwayat Israiliyat. Ketika berita tentang pengagungan malam Nisfu Sya‘ban tersebar di berbagai negeri, maka terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat Islam:
- Sebagian orang menerimanya dan mengikuti mereka dalam mengagungkan malam itu, termasuk sekelompok ahli ibadah dari Basrah dan lainnya.
- Namun kebanyakan ulama Hijaz menolak hal tersebut, di antaranya ‘Aṭā’ dan Ibn Abī Mulaykah. Hal ini juga diriwayatkan oleh ‘Abd al-Raḥmān bin Zayd bin Aslam dari para fuqaha Madinah, dan itu pula pendapat para pengikut Imam Malik dan lainnya. Mereka berkata: “Semua itu adalah bid‘ah.”
Kemudian ulama Syam berbeda pendapat tentang cara menghidupkan malam Nisfu Sya‘ban:
- Pendapat pertama: Disunnahkan menghidupkan malam itu secara berjamaah di masjid. Khalid bin Ma‘dan, Luqman bin ‘Āmir, dan lainnya biasa mengenakan pakaian terbaik mereka, memakai wewangian, bercelak, lalu menghidupkan malam itu di masjid dengan ibadah sepanjang malam. Pendapat ini juga disetujui oleh Isḥāq bin Rāhawaih, yang berkata bahwa menghidupkan malam Nisfu Sya‘ban secara berjamaah di masjid bukanlah bid‘ah. Hal ini dinukil oleh Ḥarb al-Kirmānī dalam kitab Masā’il-nya.
- Pendapat kedua: Dimakruhkan berkumpul di masjid pada malam itu untuk shalat berjamaah, bercerita, dan berdoa bersama. Namun tidak dimakruhkan jika seseorang menghidupkan malam itu dengan shalat secara pribadi. Pendapat ini adalah pendapat al-Awzā‘ī, imam, faqih, dan ulama besar Syam.
Dan inilah pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran, insyaAllah Ta‘ala.
Jadi, teks ini menunjukkan bahwa tradisi peringatan Nisfu Sya‘ban mula-mula berkembang di kalangan tabi‘in Syam, lalu menyebar ke berbagai daerah, namun ditolak oleh banyak ulama Hijaz. Sumber ajaran ini diduga berasal dari Israiliyyat.
Keterangan mirip di atas juga diberikan oleh Imam al-Qasthallani dalam al-Mawahib al-Laduniyyah:
Tabi’in tanah Syam seperti Khalid bin Ma’dan dan Makhul, mereka bersungguh-sungguh dalam beribadah pada malam Nisfu Sya’ban. Dari mereka inilah orang-orang kemudian ikut mengagungkan malam Nisfu Sya’ban. Dikatakan, bahwa telah sampai kepada mereka atsar israiliyat (kabar atau cerita yang bersumber dari ahli kitab, Yahudi dan Nasrani yang telah masuk Islam) tentang hal tersebut. Kemudian ketika perayaan malam Nisfu Sya’ban populer, orang-orang berbeda pandangan menanggangapinya. Sebagian menerima, dan sebagian lain mengingkarinya. Mereka yang memgingkari adalah mayoritas ulama Hijaz, termasuk dari mereka Atha’ dan Ibnu Abi Malikah. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari kalangan fuqaha’ Madinah menukil pendapat bahwa perayanan malam Nisfu Sya’ban seluruhnya adalah bid’ah. Ini juga merupakan pendapat Ashab Maliki dan ulama selainnya.
Memang ada beberapa hadis terkait keutamaan nishfu Syakban, namun sayangnya mayoritas atau hampir semua bernilai kalau tidak dhaif ya palsu. Ada satu hadis yang dinilai paling “lumayan” yakni hadits dari Abu Musa al-Asy’ari :
عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ , فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ , إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ.(سنن ابن ماجة)
Dari Abu Musa al-Asy’ari, dari Rasulullah SAW beliau bersabda, “Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” ( HR Ibnu Majah)
Hadis semakna juga diriwayatkan Ahmad, Ibnu Hiban, Baihaqy dan lain lain. Penilaian ulama hadis umumnya berkisar antara sahih, hasan, dan dhaif, artinya belum disepakati kesahihannya.
Mahmūd Muhammad Khattāb al-Subkī (w. 1352 H/1933 M) penulis kitab ad-Dīn al-Khāliṣ aw Irsyād al-Khalq ilā Dīn al-Ḥaqq pada juz 3 halaman 303 menulis :
(وعلى الجملة) فكل الأحاديث الواردة فى ليلة النصف من شعبان دائر أمرها بين الوضع والضعف (قال) أبو بكر بن العربى: ليس فى ليلة النصف من شعبان حديث يعول لعيه، لا فى فضلها ولا فى نسخ الآجال فيها، فلا تلتفتوا إليه (3) (ونقل) أبو شامة عنه قال: ليس فى ليلة النصف من شعبان حديث يساوى سماعه ” وقولهم ” الحديث الضعيف يعمل به فى فضائل الأعمال ” محله ” إن لم يشتد ضعفه كما هنا. على أننا لا ننكر استحباب إحيائها بالطاعة مغيرها من باقى الليالى على الوجه المشروع بلا ارتكاب محذور أهـ (وقال) أبو شامة: قيام الليل مستحب فى جميع ليالى السنة وهذه بعض الليالى التى كان يصلى فيها ويحييها النبى صلى الله عليه وسلم وإنما المحذور المنكر تخصيص بعض الليالى بصلاة مخصوصة على صفة مخصوصة أهـ.الدين الخالص أو إرشاد الخلق إلى دين الحق (3/ 303)
“Secara umum, semua hadis yang diriwayatkan tentang malam pertengahan Sya‘ban berkisar antara palsu (maudhu‘) dan lemah (dha‘if). Abu Bakr ibn al-‘Arabī berkata: Tidak ada satu pun hadis tentang malam pertengahan Sya‘ban yang dapat dijadikan sandaran, baik tentang keutamaannya maupun tentang penetapan ajal di dalamnya. Maka janganlah kalian menoleh kepadanya.
Abu Shāmah menukil darinya: Tidak ada satu pun hadis tentang malam pertengahan Sya‘ban yang layak untuk didengar. Adapun perkataan sebagian orang bahwa ‘hadis dha‘if boleh diamalkan dalam fadā’il al-a‘māl (keutamaan amal)’, maka tempatnya adalah jika kelemahannya tidak terlalu parah, sedangkan dalam hal ini kelemahannya sangat berat. Namun, kami tidak mengingkari anjuran menghidupkan malam itu dengan ketaatan sebagaimana malam-malam lainnya, dengan cara yang sesuai syariat tanpa melakukan hal yang terlarang.
Abu Shāmah juga berkata: Qiyām al-layl (salat malam) itu disunnahkan pada seluruh malam sepanjang tahun. Malam nisfu Sya‘ban hanyalah termasuk sebagian malam yang memang biasa dihidupkan oleh Nabi ﷺ dengan salat. Yang tercela dan harus diingkari adalah mengkhususkan sebagian malam dengan salat tertentu pada tata cara khusus.”
Mengenai hukum menyambut nishfu Syakban dengan berkumpul dengan melakukan ritual bersama-sama dinyatakan makruh oleh jumhur ulama sebagaimana dijelaskan dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah juz 2 halaman 236 di bawah ini.
الاِجْتِمَاعُ لإِِحْيَاءِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ :
14 – جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ عَلَى كَرَاهَةِ الاِجْتِمَاعِ لإِِحْيَاءِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ، نَصَّ عَلَى ذَلِكَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ ، وَصَرَّحُوا بِأَنَّ الاِجْتِمَاعَ عَلَيْهَا بِدْعَةٌ وَعَلَى الأَْئِمَّةِ الْمَنْعُ مِنْهُ (4) . وَهُوَ قَوْل عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ وَابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ . وَذَهَبَ الأَْوْزَاعِيُّ إِلَى كَرَاهَةِ الاِجْتِمَاعِ لَهَا فِي الْمَسَاجِدِ لِلصَّلاَةِ ؛ لأَِنَّ الاِجْتِمَاعَ عَلَى إِحْيَاءِ هَذِهِ اللَّيْلَةِ لَمْ يُنْقَل عَنِ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلاَ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِهِ . وَذَهَبَ خَالِدُ بْنُ مَعْدَانَ وَلُقْمَانُ بْنُ عَامِرٍ وَإِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ إِلَى اسْتِحْبَابِ إِحْيَائِهَا فِي جَمَاعَةٍ (1) .الموسوعة الفقهية الكويتية (2/ 236)
Berkumpul untuk menghidupkan malam nisfu Sya‘ban:
Mayoritas fuqaha berpendapat makruh berkumpul untuk menghidupkan malam pertengahan Sya‘ban. Hal ini ditegaskan oleh ulama Hanafiyyah dan Malikiyyah, bahkan mereka menyatakan bahwa berkumpul untuk itu adalah bid‘ah, dan para imam wajib mencegahnya. Pendapat ini juga dikatakan oleh ‘Aṭā’ bin Abī Rabāḥ dan Ibn Abī Mulaykah.
Al-Awzā‘ī berpendapat bahwa makruh berkumpul di masjid untuk salat pada malam tersebut, karena tidak ada riwayat dari Rasulullah ﷺ maupun dari salah seorang sahabatnya tentang menghidupkan malam nisfu Sya‘ban secara berjamaah.
Sedangkan Khālid bin Ma‘dān, Luqmān bin ‘Āmir, dan Isḥāq bin Rāhawaih berpendapat bahwa disunnahkan menghidupkan malam itu dengan berjamaah.
Inti kutipan di atas adalah, mayoritas ulama (Hanafi, Maliki, serta ulama Hijaz) menyatakan makruh, bahkan bid‘ah, dan harus dicegah berkumpul untuk memperingati nishfu Syakban. Sedang Al-Awzā‘ī berpendapat makruh berkumpul di masjid untuk salat malam nisfu Sya‘ban. Sebagian tabi‘in dan Isḥāq bin Rāhawaih menganjurkan (istihbāb) menghidupkan malam nisfu Sya‘ban secara berjamaah.
Sebagai penutup kita kutip Fatwa No. 2922 (11 Juni 2014) yang Membahas hukum menghidupkan malam Nisfu Sya‘ban, yang dikeluarkan Dar al-Ifta’ al-Urduniyah (دار الإفتاء الأردنية), yaitu lembaga resmi fatwa negara Yordania.
ولكن ننبه هنا إلى حكمين مهمين نص عليهما العلماء:
أولا: استحباب إحياء ليلة النصف من شعبان بالصلاة إنما يكون فرادى، وليس جماعة، لا في المسجد ولا في غير المسجد، وإنما بالقيام الفردي بين العبد وربه. ولذلك نص الفقهاء على كراهة إحيائها جماعة، وجدنا ذلك لدى جميع السادة الفقهاء من المذاهب الأربعة.
ثانيا: لا يجوز تخصيص هيئة خاصة للصلاة ليلة النصف من شعبان، بما اشتهر عند بعض الناس باسم “الصلاة الألفية”، وهي مائة ركعة يقرأ في كل ركعة بعد الفاتحة سورة الإخلاص عشر مرات، فهذه الصلاة أيضا غير مشروعة، وأنكرها العلماء، ولا يجوز نسبتها إلى الدين، وإنما يصلي المسلم وحده ما تيسر له، ويحرص على كثرة الدعاء وسؤال الله الحاجات.
قال النووي: “الصلاة المعروفة بصلاة الرغائب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة، وهاتان الصلاتان بدعتان ومنكران قبيحتان، ولا يغتر بذكرهما في كتاب قوت القلوب وإحياء علوم الدين، ولا بالحديث المذكور فيهما فإن كل ذلك باطل، ولا يغتر ببعض من اشتبه عليه حكمهما من الأئمة فصنف ورقات في استحبابهما؛ فإنه غالط في ذلك” المجموع شرح المهذب (4/56). والله أعلم
“Namun di sini perlu ditegaskan dua hukum penting yang telah dinyatakan oleh para ulama:
Pertama, disunnahkan menghidupkan malam Nisfu Sya‘ban dengan shalat secara individu, bukan berjamaah, baik di masjid maupun di tempat lain. Ibadah ini dilakukan secara pribadi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Oleh karena itu, para fuqaha menegaskan makruhnya menghidupkan malam tersebut secara berjamaah, dan hal ini ditemukan dalam pendapat seluruh ulama dari empat mazhab.
Kedua, tidak boleh menetapkan bentuk khusus untuk shalat malam Nisfu Sya‘ban, sebagaimana yang dikenal di kalangan sebagian orang dengan nama ‘shalat al-alfiyyah’, yaitu seratus rakaat dengan membaca surah al-Ikhlash sepuluh kali setelah al-Fatihah di setiap rakaat. Shalat ini juga tidak disyariatkan, telah diingkari oleh para ulama, dan tidak boleh dinisbatkan kepada agama. Seorang muslim cukup shalat sendirian sesuai kemampuan, serta memperbanyak doa dan memohon kebutuhan kepada Allah.
Imam an-Nawawi berkata: ‘Shalat yang dikenal dengan shalat Raghaib dan shalat malam Nisfu Sya‘ban seratus rakaat, keduanya adalah bid‘ah dan kemungkaran yang buruk. Jangan tertipu dengan penyebutannya dalam kitab Qūt al-Qulūb dan Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, dan jangan pula dengan hadis yang disebutkan di dalamnya, karena semua itu batil. Jangan pula tertipu dengan sebagian imam yang keliru dalam menilai keduanya lalu menulis lembaran-lembaran tentang anjuran melakukannya; sesungguhnya ia telah salah dalam hal itu.’ (al-Majmū‘ Syarh al-Muhadzdzab, 4/56). Wallāhu a‘lam.”(https://www.aliftaa.jo/fatwa/2922)
Jika mengadakan ritual khusus malam nishfu Syakban masih ada perbedaan, maka sebenarnya kita tidak perlu khawatir, bahwa tiap malam berdasar hadis sahih Allah menyediakan waktu mustajab untuk berdoa dan juga mohon ampun yakni di 1/3 akhir malam. Ingat ini datang atau terjadi setiap malam, jadi tidak perlu repot menunggu satu tahun sekali.
Perhatikan hadis sahih di bawah ini.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ.صحيح البخاري
Dari Abū Hurairah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Tuhan kita Tabāraka wa Ta‘ālā turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.”
Ibnu Bathal dalam syarahnya menjelaskan.
هذا وقت شريف مرغب فيه خصّه الله تعالى بالتنزل فيه ، وتفضّل على عباده بإجابة من دعا فيه ، وإعطاء من سأله ، إذ هو وقت خلوة وغفلة واستغراق فى النوم واستلذاذ به ، ومفارقة الدعة واللذة صعب على العباد ، لا سيما لأهل الرفاهية فى زمن البرد ، ولأهل التعب والنصب فى زمن قصر الليل ، فمن آثر القيام لمناجاة ربه والتضرع إليه فى غفران ذنوبه ، وفكاك رقبته من النار وسأله التوبة فى هذا الوقت الشاق على خلوة نفسه بلذتها ومفارقة دعتها وسكنها ، فذلك دليل على خلوص نيته وصحة رغبته فيما عند ربه ، فضمنت له الإجابة التى هى مقرونة بالإخلاص وصدق النية فى الدعاء ، إذ لا يقبل الله دعاءً من قلب غافل لاهٍ .)شرح صحيح البخارى ـ لابن بطال (10/ 89)
“Ini adalah waktu yang mulia dan sangat dianjurkan. Allah Ta‘ala telah mengkhususkannya dengan turunnya (rahmat-Nya), serta berkenan mengabulkan doa orang yang berdoa pada waktu itu, dan memberi kepada orang yang meminta. Karena waktu itu adalah saat kesunyian, kelalaian, tenggelam dalam tidur, dan kenikmatan tidur. Meninggalkan kenyamanan dan kelezatan tidur adalah hal yang berat bagi hamba, khususnya bagi orang-orang yang hidup dalam kemewahan di musim dingin, dan bagi orang-orang yang letih dan lelah di musim ketika malam begitu singkat.
Maka siapa yang lebih memilih bangun untuk bermunajat kepada Tuhannya, merendahkan diri memohon ampunan atas dosa-dosanya, memohon agar dilepaskan dari neraka, dan meminta taubat pada waktu yang sulit ini—ketika ia harus menyendiri dari kenikmatan dirinya, meninggalkan kesenangan dan ketenangan tidurnya—maka itu adalah tanda ketulusan niatnya dan kebenaran keinginannya terhadap apa yang ada di sisi Tuhannya.
Karena itu, dijamin baginya terkabulnya doa, yang selalu terkait dengan keikhlasan dan ketulusan niat dalam berdoa. Sebab Allah tidak menerima doa dari hati yang lalai dan berpaling.”
Intinya, Ibn Baṭṭāl menekankan bahwa bangun di waktu malam (khususnya sepertiga malam terakhir) adalah bukti keikhlasan dan kesungguhan seorang hamba, karena ia rela meninggalkan kenikmatan tidur demi bermunajat kepada Allah. Doa di waktu ini lebih dekat kepada ijabah (dikabulkan), sebab disertai dengan hati yang hadir dan niat yang tulus. (Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī karya Ibn Baṭṭāl (10/89):
Editor: Al-Afasy



