Berita

Menghadirkan Kampung Muhammadiyah di Perdesaan (Studi Kasus PCM Nalumsari Jepara)

Oleh: Taufiq Nugroho N, M.Pd

PWMJATENG.COM, Gerakan Muhammadiyah sejak awal lahir dari lingkungan kampung religius Kauman, Yogyakarta—pusat peradaban yang dekat dengan Masjid Gedhe, tradisi budaya Jawa, dan aktivitas ekonomi batik. Di ruang sosial seperti itulah K.H. Ahmad Dahlan membangun gagasan pembaruan Islam. Meski menghadapi tantangan, termasuk peristiwa pembakaran Langgar Kidul, hambatan justru menguatkan dakwah Muhammadiyah sebagai gerakan pencerahan.

Selama ini Muhammadiyah sering dipersepsikan sebagai gerakan kelas menengah yang kuat di perkotaan. Nilai-nilai kota—kompetitif, terbuka, egaliter—turut memengaruhi karakter gerakan. Namun pada kenyataannya, Muhammadiyah justru berkembang signifikan di perdesaan. Salah satu contoh inspiratif adalah Kokoda di Papua Barat. Sejak 1998, melalui pembinaan UNIMUDA Sorong, kawasan Warmon berubah menjadi komunitas Muslim yang aktif: berdiri masjid, sekolah, rumah baca, hingga puluhan rumah permanen. Kini, seluruh warganya menjadi bagian dari jamaah Muhammadiyah.

Kisah serupa hadir di Kecamatan Nalumsari, Jepara. Sejak 1960-an, PRM Dorang, Blimbingrejo, Bendanpete, dan Nalumsari menjadi cikal bakal gerakan. Para perintis seperti K.H. Noor Su’udi, Bapak Umar Hasyim, dan K.H. Mustain membangun basis jamaah dari kalangan petani, buruh, dan perantau. Modal sosial utama mereka adalah kuatnya gotong royong, kecintaan terhadap pengajian, dan keterbukaan masyarakat untuk belajar agama.

PCM Nalumsari resmi berdiri pada 1996 pasca pemekaran kecamatan. Prinsip gerakannya sederhana tetapi strategis: “Think globally, do locally.” AUM berkembang pesat—dari MTs Muhammadiyah, TK ABA, SD Muhammadiyah, madrasah diniyah, BMT, hingga Pondok Pesantren Assyfa. Dakwah berjalan melalui pengajian rutin, pengkaderan BA/DA, serta Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ).

Salah satu kekuatan PCM Nalumsari adalah terkonsentrasinya warga persyarikatan. Banyak keluarga Muhammadiyah tinggal berdekatan sehingga membentuk kawasan yang dikenal sebagai “kampung Muhammadiyah.” PRM besar seperti Blimbingrejo dan Dorang memiliki ribuan anggota, disusul PRM baru seperti Tunggul Pandean (2019).

Gerakan ini sejalan dengan spirit Kiai Dahlan: menghidupkan jamaah, membina keluarga, serta memperkuat cabang dan ranting.

Untuk membangun kampung Muhammadiyah yang berkeadaban, ada empat pilar utama:

1. Kiai/Ustaz sebagai Perawat Umat

Para kiai ranting adalah pilar dakwah. Mereka mengajarkan fikih, akidah, akhlak, dan mengenalkan dakwah Islam berkemajuan kepada generasi muda.

2. Masjid sebagai Pusat Peradaban

Masjid menjadi ruang ibadah dan pusat pembinaan jamaah. Dari sinilah dakwah, pendidikan, dan kegiatan sosial bergerak tanpa mengganggu atau diganggu pihak lain.

3. Madrasah Diniyah sebagai Pencetak Kader

Ketiadaan madrasah sering menjadi tanda melemahnya ranting. Madrasah adalah ruang transfer ilmu agama dan pengkaderan anak-anak warga Muhammadiyah. Pendidikan agama tidak bisa dititipkan kepada pihak lain.

4. Gedung Dakwah dan Komunitas

Gedung dakwah menjadi pusat kegiatan ortom dan komunitas. Seni bela diri Tapak Suci, KOKAM, serta kegiatan remaja menjadi magnet kader milenial.

Selama empat pilar ini berjalan, ranting akan tetap mampu memegang amanah Mbah Dahlan: menghidupkan Muhammadiyah.

PCM Nalumsari juga menghadapi tantangan perubahan sosial. Mereka berhasil mengislamkan masyarakat yang sebelumnya lebih abangan—mengacu pada teori trikotomi Clifford Geertz tentang santri, abangan, dan priyayi. Melalui dakwah sosial, ekonomi, dan pendidikan, para tokoh seperti Umar Hasyim dan Kiai Noor Su’udi mengubah wajah Blimbingrejo dan Gempol Dorang menjadi masyarakat yang lebih santri dan berkemajuan.

Penguatan ekonomi jamaah, keberadaan lembaga pendidikan, hingga pendekatan dakwah non-konfrontatif membuat Muhammadiyah mampu menghadirkan Islam berkemajuan secara konstruktif dan membumi.

Seperti pesan Prof. Dr. Din Syamsudin saat membentuk PRM Pondok Labu, kemuliaan aktivis tidak bergantung pada besar kecilnya struktur. PRM dan PCM memiliki kehormatan yang sama selama menghidupkan dakwah persyarikatan.

Ranting itu penting. Cabang itu berkembang. Dan kampung-kampung Muhammadiyah adalah fondasi masa depan persyarikatan.

“Kutitipkan Muhammadiyah kepadamu,” pesan K.H. Ahmad Dahlan.
“Tetaplah mendakwahkan Islam lewat gerakan Muhammadiyah,” pesan K.H. Noor Su’udi.

Semoga kampung-kampung Muhammadiyah terus tumbuh di seluruh Nusantara, agar sang surya tetap menyinari dunia.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE