Ketua Umum Sebagai Benteng Terakhir Organisasi Pemuda

PWMJATENG.COM, Menjalankan roda organisasi kepemudaan dalam ekosistem Muhammadiyah memerlukan kecakapan yang melampaui sekadar administrasi. Wahyu Anggoro Saputro, Ketua Umum PCPM Kandangan, membagikan refleksinya mengenai fenomena “Rupa-rupa Pemuda Bersyarikat”—sebuah tinjauan tentang bagaimana keberagaman potensi kader harus dikelola dengan pendekatan manajerial yang unik.
Salah satu poin krusial dalam tulisan Wahyu adalah pergeseran paradigma kepemimpinan bidang. Seorang pemimpin bidang tidak wajib menjadi pakar teknis; seorang ketua bidang olahraga tidak harus menjadi atlet. Esensinya terletak pada kemauan manajerial—kemampuan mengonsep, mengoordinasi, dan memastikan program berjalan sesuai koridor ideologi.
Psikologi pemuda yang cenderung selektif dan rekreatif harus direspons dengan cerdas. Mengakomodasi minat terhadap seni dan olahraga bukanlah degradasi nilai, melainkan strategi adaptif. Website pcpmkandangan.my.id menjadi bukti bagaimana hobi dijadikan media dakwah yang inklusif untuk mempertahankan relevansi organisasi di mata milenial dan Gen Z.
Mungkin yang paling mendalam adalah redefinisi peran Ketua Umum (Ketum). Wahyu menegaskan bahwa Ketum bukanlah sekadar sosok di depan panggung, melainkan “benteng terakhir”. Ia adalah penjamin keberlangsungan (anchor) yang paling akhir menyerah saat badai organisasi datang, memastikan marwah persyarikatan tetap tegak berdiri.
Sinergi antara manajemen yang luwes, pendekatan hobi yang akomodatif, dan kepemimpinan yang kokoh akan mengubah organisasi kepemudaan menjadi wadah pengembangan kader yang progresif.
Kontributor: Wahyu Anggoro Saputro (Ketum PCPM Kandangan)
Editor: Al-Afasy



