Berita

Kaderisasi Aisyiyah yang Hidup dan Membumi: Belajar dari Praktik Baik PCA Mojotengah

PWMJATENG.COM, WONOSOBO – Majelis Pembinaan Kader (MPK) PDA Kota Yogyakarta terus berupaya memperkuat struktur organisasi melalui berbagai inovasi. Salah satunya, mereka melaksanakan studi inspiratif ke PCA Mojotengah sebagai ikhtiar untuk mendapatkan gambaran nyata mengenai proses kaderisasi Aisyiyah yang hidup dan membumi. Kegiatan ini bertujuan menjadi referensi model perkaderan aplikatif yang dapat diadaptasi hingga tingkat ranting. Selain itu, agenda ini menjadi ruang silaturahmi untuk mempererat ukhuwah keluarga besar ‘Aisyiyah.

Suasana kegiatan terasa semakin istimewa karena kehadiran tokoh nasional, Hj. Dr. Siti Aisyah dari PP ‘Aisyiyah. Beliau memiliki ikatan emosional yang kuat dengan wilayah Mojotengah karena orang tuanya berasal dari Kalibeber. Kehadiran beliau memberikan kekayaan perspektif baru serta menyuntikkan semangat ideologi dalam diskusi refleksi kaderisasi tersebut.

Bagi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, kaderisasi Aisyiyah merupakan sebuah keniscayaan. Proses ini berlangsung secara sistematis, terpadu, dan berkelanjutan untuk membina aspek kognitif maupun psikomotorik kader. Tujuan akhirnya adalah melahirkan manusia unggul yang memiliki loyalitas tinggi terhadap organisasi. Melalui sistem ini, persyarikatan menyiapkan pemimpin masa depan yang mampu menjaga identitas khairu ummah.

Ketua PCA Mojotengah, Hj. Rohani Sulistyowati, menjelaskan bahwa mereka membangun kekuatan organisasi melalui empat pilar utama. Pilar tersebut meliputi keluarga sebagai dasar keteladanan, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sebagai ruang pengabdian, pimpinan sebagai penjaga ideologi, serta Ortom sebagai kawah candradimuka bagi kader muda.

“Keempat pilar ini saling menguatkan dan berjalan beriringan. Oleh karena itu, kaderisasi Aisyiyah di sini tidak berhenti pada pelatihan formal saja, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Hj. Rohani.

PCA Mojotengah memiliki sejumlah program unggulan yang mencerminkan kebutuhan masyarakat, seperti Daycare Lansia Khafijah dan KJKS BUEKA. Seluruh kegiatan tersebut selalu melibatkan kader muda dari Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) dan IPM. Keterlibatan ini memastikan proses regenerasi berlangsung secara alami melalui praktik langsung di lapangan.

Salah satu kegiatan unik yang masih terjaga adalah tadarus Al-Qur’an pekanan dari rumah ke rumah. Program ini menyasar anak-anak usia sekolah dasar hingga kelompok pemuda secara bergilir. Praktik ini membuktikan bahwa kedekatan personal dan konsistensi menjadi kunci utama dalam merawat semangat berorganisasi.

Studi inspiratif ini memberikan pelajaran berharga bahwa kaderisasi Aisyiyah tidak selalu harus tampil megah atau formal. Mojotengah mengajarkan bahwa kaderisasi yang kuat adalah yang menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat. Semoga praktik baik ini menginspirasi pimpinan ‘Aisyiyah di berbagai level untuk terus merawat kaderisasi yang berorientasi masa depan dan tetap bernafaskan nilai Islam berkemajuan.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE