Islam dan Neurosains: Membedah Hakikat Akal, Qalb, dan Ruh

PWMJATENG.COM, Upaya mempertautkan Islam dan neurosains berangkat dari kesadaran bahwa manusia adalah kesatuan utuh antara jasad, nafs, qalb, ‘aql, dan ruh. Dalam buku terbitan IKIM Malaysia ini, pembaca diajak menyelami bagaimana kerja otak harus dibaca dalam kerangka pandangan hidup Islam (ru’yat al-Islam li al-wujud).
Dalam Islam, ‘aql tidak bekerja mandiri. Ia terhubung erat dengan qalb (hati) sebagai pusat kesadaran batin. Kualitas berpikir manusia sangat ditentukan oleh keadaan hatinya. Islam menegaskan bahwa kebutaan sejati bukanlah pada mata, melainkan pada hati yang gagal memahami kebenaran Ilahi.
Kajian sistem saraf menjelaskan mekanisme manusia merasa dan memutuskan sesuatu. Namun, Islam menolak pandangan materialisme yang menyempitkan kesadaran hanya pada kerja saraf. Penjelasan neurosains adalah wasilah (sarana), sementara hakikat manusia tetap bersumber dari ruh yang ditiupkan Allah.

Konsep nafs ammarah, lawwamah, dan mutma’innah menunjukkan tahapan penyucian diri. Pengetahuan tentang mekanisme emosi dalam neurosains seharusnya membantu manusia dalam proses mujahadah an-nafs (pengendalian diri), bukan justru menjadi pembenaran atas kelemahan moral.
Perjumpaan Islam dan neurosains bertujuan membentuk Insan Kamil. Manusia yang seimbang antara akal yang tercerahkan, qalb yang hidup, dan jasad yang terarah dalam ketaatan. Inilah ruh tradisi keilmuan Islam: menempatkan ilmu pengetahuan sebagai jalan untuk memperkuat iman.
Review Buku: Islam dan Neurosains: Isu dan Cabaran (IKIM Malaysia)
Oleh: Alvin Qodri Lazuardy (Kader Muhammadiyah / Majelis Tarjih PWM Jawa Tengah)
Editor: Al-Afasy



