Kolom

Idealisme dan Isi Perut: Menimbang Kembali Kesejahteraan dalam Gerakan IMM

Oleh: Anas Asy’ari Nashuha (Ketua Umum PC IMM Sukoharjo)

Gerakan mahasiswa selalu lahir dari kegelisahan zamannya. Namun hari ini, kegelisahan itu terasa samar. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tengah dihadapkan pada situasi pelik: idealisme tetap dikumandangkan, namun energi kolektif perlahan melemah. Ada persoalan mendasar yang jarang dibicarakan secara terbuka: kesejahteraan kader.

Dalam berbagai forum, ideologi menjadi pusat bahasan. Militansi dituntut, namun kondisi ekonomi kader dianggap isu teknis—bahkan tabu. Seolah membicarakan hidup sehari-hari adalah kemunduran idealisme. Padahal, di situlah gerakan diuji: apakah ia berpijak pada realitas kader atau sekadar melayang di ruang hampa?

Marx mengingatkan bahwa kesadaran manusia dipengaruhi oleh kondisi materialnya. Ketika kader harus bergulat dengan biaya pendidikan dan beban ekonomi keluarga, ruang untuk refleksi akan menyempit. Tanpa dukungan struktural, idealisme berisiko menjelma menjadi beban moral. Di sinilah Alienasi muncul: kader hadir secara formal, namun kehilangan keterikatan batin.

Di sisi lain, Max Weber menyoroti bahaya “Iron Cage” atau sangkar rasionalitas. Organisasi mahasiswa kini kian birokratis. Struktur rapi dan agenda padat, namun perhatian terhadap manusia di dalamnya semakin berjarak. Kader patuh pada sistem, sementara sistem belum hadir menjawab kebutuhan mereka.

Islam berkemajuan semestinya melahirkan etos kemandirian. Materi bukanlah pengganggu idealisme, melainkan amanah. Islam tidak memuliakan kemiskinan, melainkan berupaya membebaskan manusia dari keterbatasan yang menghambat potensi.

Perspektif Mubadalah menawarkan solusi: relasi timbal balik. Organisasi tidak hanya menuntut pengorbanan, tetapi juga menyiapkan ekosistem agar kader bertumbuh.

Kader yang memiliki ruang hidup layak akan lebih merdeka berpikir dan lebih berani bersuara. Menempatkan kesejahteraan sebagai agenda ideologis justru akan memperkuat gerakan, bukan melemahkannya.

Gerakan yang berkelanjutan adalah yang mampu merawat manusia di dalamnya. IMM perlu menata ulang orientasi: menjembatani nilai dan realitas. Sebab hanya dengan cara itu, gerakan tetap relevan di tengah perubahan zaman.


Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE