
PWMJATENG.COM, Boyolali – SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Banyudono kembali memperlihatkan keseriusannya dalam meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Pada Sabtu, 30 Agustus 2025, sekolah ini menggelar In House Training (IHT) bertajuk “7 Jurus Bimbingan Konseling” di aula sekolah.
Kegiatan ini menghadirkan Pujiono, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah PK Banyudono sekaligus Tim Fasilitator Diksuspala Penjamin Mutu Sekolah Muhammadiyah, sebagai narasumber. Ia menekankan bahwa guru dan karyawan harus memiliki keterampilan khusus dalam mendampingi siswa.
“Anak-anak kita ibarat tunas. Mereka butuh dirawat, diarahkan, dan dibimbing agar tumbuh menjadi pribadi yang unggul dan berkarakter. 7 jurus BK ini menjadi kunci agar guru dan karyawan dapat bersinergi dalam membentuk generasi terbaik,” ujar Pujiono di hadapan peserta.
Dalam pelatihan tersebut, Pujiono menyampaikan tujuh strategi yang disebut sebagai jurus bimbingan konseling. Jurus pertama adalah mengenali potensi anak. Menurutnya, setiap anak memiliki keunikan yang harus dipahami oleh guru dan orang tua.
Jurus kedua, menahan emosi. Guru dituntut mampu mengendalikan diri ketika menghadapi berbagai dinamika perilaku siswa. “Ketenangan guru akan berpengaruh langsung pada suasana belajar di kelas,” jelas Pujiono.
Selanjutnya, jurus ketiga yaitu menumbuhkan resiliensi. Ia menilai ketahanan mental anak sangat penting agar mampu menghadapi tantangan. Jurus keempat adalah konsistensi dalam mendidik. Konsistensi ini, menurut Pujiono, akan membangun kepercayaan dan keteladanan.
Baca juga, Dodok Sartono: Kunci Reputasi Organisasi Ada pada Kejujuran dan Integritas
Jurus kelima menekankan pentingnya membangun komunikasi efektif. Guru harus pandai menyampaikan pesan dengan bahasa yang mudah dipahami siswa. Jurus keenam adalah kolaborasi dengan semua pihak, termasuk orang tua dan masyarakat sekitar. “Pendidikan tidak bisa hanya dilakukan di sekolah, tapi juga harus ada dukungan penuh dari rumah dan lingkungan,” tuturnya.

Terakhir, jurus ketujuh adalah tanggap terhadap situasi. Guru diharapkan mampu cepat menyesuaikan diri dengan perubahan dan kebutuhan siswa.
Melalui IHT ini, guru dan karyawan SD Muhammadiyah PK Banyudono diharapkan semakin terampil dalam memberikan pendampingan kepada siswa. Pihak sekolah meyakini, keterampilan ini akan menciptakan suasana yang lebih kondusif, penuh empati, sekaligus mendukung budaya belajar yang unggul.
Pujiono menyampaikan bahwa bimbingan konseling bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan bagian penting dari pendidikan holistik. “BK bukan hanya ruang konseling, tetapi cara kita mendampingi anak-anak agar siap menghadapi kehidupan,” katanya.
Guru dan karyawan tampak antusias mengikuti pelatihan. Beberapa guru menyatakan bahwa jurus BK yang dipaparkan relevan dengan kebutuhan mereka sehari-hari di sekolah. Mereka menilai pelatihan ini memberikan bekal praktis yang bisa langsung diterapkan di kelas.
Acara kemudian ditutup dengan deklarasi komitmen seluruh guru dan karyawan. Mereka bersepakat mengimplementasikan “7 Jurus BK” dalam aktivitas harian sekolah. Komitmen ini menjadi wujud nyata pelayanan pendidikan yang lebih menyeluruh dan berkualitas.
Kontributor : Pujiono
Ass Editor : Ahmad; Editor : M Taufiq Ulinuha