Gus Ibnu Yusuf Kupas Sejarah Tersembunyi Muhammadiyah di Jogja

PWMJATENG.COM, Yogyakarta — Rabu (7/1), menjadi momen penting bagi warga Muhammadiyah di Yogyakarta. Gus Ibnu Yusuf bin Kholil, Ketua Umum Forum Gawagis Muhammadiyah (GawagisMU), hadir dalam safari dakwah bertajuk “Ngaji Sejarah” di dua lokasi ikonik: Masjid Siti Djirzanah Malioboro dan Teras Dakwah Jogja.
Dalam paparannya, Gus Yusuf mengungkap fakta di balik kokohnya basis Muhammadiyah di Lamongan, Jawa Timur. Tokoh seperti KH Abdurrahman Samsuri dan KH Ridwan Syarqowi disebut sebagai arsitek dakwah di wilayah pesisir. Uniknya, Gus Yusuf menyoroti keberhasilan rumah tangga dan strategi kultural sebagai akar kekuatan dakwah mereka.
Salah satu poin menarik yang diperkenalkan adalah Masjid Besar At-Taqwa Paciran. Masjid berkapasitas 5.000 jemaah ini menjadi satu-satunya di Indonesia yang dikelola secara kolaboratif oleh tiga pondok besar: Pondok Karangasem (Muhammadiyah), Pondok Modern (Muhammadiyah), dan Pondok Mazra’atul Ulum (NU).
“Masjid ini dikelola secara Amaliah dan organisasi secara bergantian dengan penuh rasa toleransi, menjadikannya masjid percontohan nasional,” jelas Gus Yusuf.
Mengulas bukunya yang berjudul “Sejarah Muhammadiyah yang Jarang Diulas”, Gus Yusuf meluruskan panggilan para Pahlawan Nasional dari Muhammadiyah:
- Ki Bagus Hadikusumo: Gelar “Bagus” berasal dari “Raden Bagus”.
- KH Agus Salim: Panggilan “Agus/Gus” merupakan tradisi Jawa untuk menghormati keturunan orang terpandang.
- KH Mas Mansur: Gelar “Mas” menunjukkan garis keturunan ulama sekaligus bangsawan. Di masa lalu, gelar “Mas” memiliki posisi sangat tinggi, serupa dengan tradisi di Ponpes Sidogiri.
Meski data ini telah banyak diteliti secara akademik, Gus Yusuf merasa publikasi ke masyarakat umum masih sangat minim. Melalui safari ini, beliau berharap warga Muhammadiyah semakin bangga dan mengenal akar sejarah organisasinya secara mendalam dan multidimensional.
Kontributor: Yahya Syafiqih Muhib | GawagisMU
Editor: Al-Afasy



