Kolom

Gejolak Indonesia Sekarang: Ke Manakah Kehaduhan Kan Berujung?

Gejolak Indonesia Sekarang: Ke Manakah Kehaduhan Kan Berujung?

Oleh : Prof. Dr. Ahwan Fanani, M.Ag. (Plt. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM jawa Tengah)

PWMJATENG.COM – Suasana chaos dengan skala massif seperti sekarang ini sulit dibilang terjadi secara alami. Perpindahan kekuasaan pada tahun 2014 relatif mulus karena yang lama sudah bersiap untuk melepas dan yang baru sudah membentuk tim untuk mengambil alih sejak dini tampuk kepemimpinan. Transisi kekuasaan pun berjalan lancar.

Namun perpindahan kekuasaan Tahun 2024 tidak berjalan semudah di atas. Yang lama masih punya tanggungan-tangungan yang harus ditunaikan sehingga ia mencari pelanjut yang bersedia untuk meneruskan tanggungan tersebut. Pelanjut (Yang baru) pun untuk bisa menapak di kepemimpinan membutuhkan, dus harus berkolaborasi, dengan yang lama, meski dengan enggan.

Saat roda pemerintahan berjalan, ternyata tanggungan dari pihak lama, yang disertai dengan SDM titipan, membuat yang baru seperti berjalan dengan kaki terikat sebelah. Kondisinya sangat tidak nyaman ketika punya visi, tetapi harus mematuhi kesepakatan hasil kompromi, yang sebenarnya tidak mengenakkan.

Terlebih, di sana sini mulai banyak suara tidak puas dari masyarakat atas kondisi negara saat ini. Si Baru merasa galau, ingin melakukan perubahan, tetapi yang hendak diubah adalah hasil kesepakatan dengan yang lama. Akhirnya, terjadilah dilema besar dalam pemerintahan kali ini. Yang baru ingin berdiri tegak dengan kebijakan sendiri, tetapi sudah terantai dengan janji, yang tidak elok untuk diabaikan.

Baca juga, Fungsi Rasionalitas dalam Memahami Syariat Islam

Satu-satunya harapan adalah ada dukungan moral dari publik untuk memberi legitimasi bagi yang baru untuk memegang kebijakan secara utuh. Sayangnya, karena SDM titipan itu masih memegang mata dan tangan kekuatan, bahkan kartu As, sehingga kondisi menjadi tidak mudah.

Diperlukan force majeaur atau kondisi kahar agar kesepakatan dengan Yang Lama bisa dilonggarkan. Tapi kondisi force majeur itu sangat beresiko mengorbankan ketertiban, laiknya membuka kotak Pandora.

Menciptakan force majeur itu butuh kemampuan desain gerakan yang tinggi agar berhasil. Susahnya, Yang Lama juga punya mata dan tangan untuk melakukan counter atas desain yang mungkin dilakukan. Belum lagi, di air keruh, sangat terbuka ada pihak lain yang memancing ikan dan bertindak sebagai kuda hitam.

Inilah titik kritis kondisi politik Indonesia saat ini. Di tengah gemuruh demonstran dan riuh rendah suara di media, sulit untuk memilah suara itu berada di sisi mana.

Bagi orang awam seperti kita, keselamatan dan kedamaian negara yang diharapkan. Dalam setiap perubahan akan selalu anak anak bangsa yang terkorbankan. Di tengah ketidakpastian, hasil akhir pun masih sulit dinilai. Kemanakah kiranya semua kegaduhan ini berujung.

Ass Editor : Ahmad; Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE