Dari Tahlilan ke Tadabbur: Ikhtiar Dakwah Kultural Muhammadiyah Memperluas Jamaah

Muhammadiyah tidak lahir sebagai reaksi emosional terhadap tradisi, melainkan ikhtiar sadar menghadirkan Islam yang murni, rasional, dan membebaskan. Namun, dalam persentuhan dengan tradisi yang mengakar—khususnya tradisi kematian—dakwah Muhammadiyah sering kali berada di wilayah yang tidak hitam-putih.
Tradisi kematian adalah ruang sensitif tempat duka dan solidaritas sosial bertemu. Banyak masyarakat simpati pada Muhammadiyah, namun ragu mendekat karena khawatir tidak “lulus” secara keagamaan. Muhammadiyah pun dipersepsi sebagai gerakan yang benar, namun terasa jauh secara rasa.
Dalam membedah realitas ini, Muhammadiyah memerlukan pendekatan yang komprehensif:
- Bayani (Tekstual): Secara normatif, larangan niyahah (meratapi kematian secara berlebihan) sudah jelas. Namun, apakah berkumpul untuk berdoa hari ini identik dengan meratap? Dakwah seharusnya fokus pada substansi ketenangan iman, bukan semata bentuk luarnya.
- Burhani (Kontekstual): Membaca kebutuhan umat. Saat kematian, masyarakat butuh pendampingan spiritual, bukan penghakiman. Inilah peluang menciptakan “budaya baru” yang tetap berpegang pada Manhaj Tarjih namun menjawab kebutuhan psikologis.
- Irfani (Rasa/Hati): Menghibur yang berduka adalah akhlak. Dakwah yang kehilangan empati berisiko kehilangan umat. Mubaligh sejati bukan yang menunjuk kesalahan dari tepi, melainkan yang turun ke tengah umat untuk mengarahkan tanpa menghujat.
“Mubaligh Muhammadiyah sejati bukanlah mereka yang berdiri di tepi sambil menunjuk kesalahan, tetapi mereka yang turun ke tengah umat, ikut mengalir, sambil tetap memegang prinsip agar umat tidak tenggelam.”
Inspirasi nyata datang dari almarhum Pak AR Fachruddin. Dengan kesabaran, beliau berhasil menggeser tradisi yasinan menjadi pengajian tafsir Al-Qur’an (tadabbur). Perubahan itu lahir dari keteladanan dan kedekatan, bukan konfrontasi.
Dakwah kultural tidak boleh berhenti sebagai wacana. Ia perlu disepakati, dilembagakan, dan diarahkan dalam koridor Institusionalisasi Manhaj Tarjih. Budaya baru perlu diciptakan untuk menghadirkan Islam secara membumi.
Menjaga kemurnian Islam dan merangkul kemanusiaan bukanlah dua hal yang bertentangan. Dakwah adalah seni menyampaikan kebenaran agar dapat didekati tanpa rasa takut. Di sanalah dakwah Muhammadiyah menemukan wajahnya yang paling otentik.
Oleh: Rudyspramz, MPI
Editor: Al-Afasy


