Dari Matras Pencak Silat ke Ruang Dekanat: Jejak Dedikasi Dr. Nur Subekti di UMS

PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Konsistensi dan disiplin menjadi benang merah perjalanan hidup Dr. Nur Subekti, S.Pd., M.Or. Sosok kader Muhammadiyah ini menapaki jalan panjang: mulai dari matras pencak silat nasional hingga menjadi perintis sekaligus motor penggerak Program Studi Pendidikan Jasmani di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Nur Subekti, atau yang akrab disapa Bekti, adalah mantan atlet pencak silat yang pernah mencicipi ketatnya persaingan di level Pelatnas. Meski sempat disibukkan dengan jadwal latihan asrama yang padat, ia tetap memegang teguh prinsip bahwa pendidikan adalah prioritas utama.
Keputusan besar diambil Bekti pada tahun 2012 dengan memilih pensiun sebagai atlet aktif demi menempuh studi S2. Langkah ini menjadi titik awal karier ganda yang cemerlang: sebagai akademisi sekaligus pelatih profesional. “Sejak 2012 saya memegang tim Jawa Tengah, dan kini dipercaya menjadi pelatih tim PON,” ungkapnya, Rabu (14/1/2026).

Pengalaman lapangan yang dipadukan dengan teori ilmiah membuat metode kepelatihannya semakin tajam. Kapasitas inilah yang kemudian membawa UMS memberikan kepercayaan besar kepadanya untuk merintis Prodi Pendidikan Jasmani.
Menjadi Ketua Program Studi (Kaprodi) tanpa pengalaman administratif yang panjang sempat menjadi tantangan tersendiri bagi sang “orang lapangan”. Namun, Bekti menyiasatinya dengan kepemimpinan yang cerdas. Ia merekrut dosen-dosen yang kuat secara teori dan administrasi untuk saling melengkapi.
Hasilnya nyata. Di bawah sentuhannya, Prodi Pendidikan Jasmani UMS kini meraih akreditasi Unggul dan menjadi salah satu prodi favorit. “Saya orang lapangan, maka saya bangun tim yang solid untuk menutupi kelemahan administrasi saya,” ujarnya rendah hati.

Meski kini menjabat sebagai pimpinan fakultas (Wakil Dekan), Bekti tegas menolak untuk berhenti melatih. Baginya, melatih adalah bagian dari identitas diri. Menutup perbincangan, ia berpesan kepada generasi muda untuk tetap bergerak di tengah gempuran teknologi.
“Olahraga itu kebutuhan, bukan pilihan. Mens Sana in Corpore Sano—di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Jangan hanya melihat media sosial, bergeraklah,” pungkasnya.
Kontributor: Ariya | Fajar
Editor: Al-Afasy



