Berita

Biomassa sebagai Jembatan Transisi: Menggugat Tanggung Jawab Struktural Negara

Kita hidup tidak dalam ruang kosong. Setiap keputusan energi hari ini akan diuji atau bahkan ditinggalkan oleh generasi mendatang. Tugas kita bukanlah menciptakan solusi yang sempurna dan final, melainkan meminimalkan risiko kerusakan yang lebih besar.

Selama puluhan tahun, energi fosil menjadi tulang punggung pembangunan. Kita mengkritik tambang, namun hidup dari produknya—mulai dari gawai hingga infrastruktur. Persoalannya bukan pada aktivitas ekstraksi, melainkan pada ketidakhadiran etika dan regulasi. Ketika penambangan dijalankan tanpa tanggung jawab pascatambang, negara sedang mewariskan luka ekologis kepada rakyat kecil.

Dalam lanskap ini, gagasan biomassa menemukan relevansinya. Ia lahir dari kesadaran bahwa produksi modern menghasilkan limbah masif yang selama ini dianggap beban. Melalui biomassa, limbah kota, industri, dan pertanian diolah kembali menjadi energi.

“Penting untuk ditegaskan: biomassa bukanlah solusi tunggal, melainkan solusi transisi. Ia menjembatani kebutuhan hari ini dengan daya dukung lingkungan di masa depan.”

Negara tidak boleh menyerahkan pengembangan biomassa kepada mekanisme pasar semata. Keterlibatan APBN dan kebijakan publik yang jelas adalah investasi jangka menengah yang rasional. Mengolah limbah menjadi biogas atau pupuk organik berarti menekan biaya pengelolaan sampah sekaligus mengurangi ketergantungan impor energi.

Upaya yang dirintis oleh peneliti seperti Dr. Muchammad Sobri dari Muhammadiyah Jawa Tengah menunjukkan bahwa sains tidak boleh berjarak dari persoalan sosial. Sains memberi kita batas alam, sementara etika menuntun arah kebijakan. Kebijakan energi yang abai terhadap sains hanya akan melahirkan “kebodohan struktural” yang merugikan kedaulatan bangsa.

Ketahanan energi sejati bermula dari desa. Desa bukan sekadar pemasok bahan mentah, melainkan pusat produksi energi lokal dan pangan yang bermartabat. Ketika desa diperkuat melalui teknologi biomassa, tekanan ekologis di perkotaan dapat ditekan.

Mengelola energi adalah mengelola masa depan. Negara diuji bukan dari seberapa cepat ia mengekstraksi sumber daya, tetapi dari seberapa bijak ia menjaga dan mewariskannya. Bioenergi berbasis biomassa adalah ikhtiar beradab untuk memastikan cahaya peradaban Indonesia tetap menyala bagi generasi yang akan datang.

Oleh : Suryawan Ekananto
Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE