Bermula dari Sawah 500 Meter: Kisah Keteguhan Hj. Surtinah Mendirikan RS PKU Muhammadiyah Parakan

PWMJATENG.COM, Sejarah berdiri dan berkembangnya RS PKU Muhammadiyah Parakan adalah sebuah epik tentang keteladanan. Rumah sakit yang kini berdiri megah di jalur strategis Parakan–Kedu ini berakar dari keikhlasan pasangan suami istri dermawan: H. Tukijo dan Hj. Surtinah.
Momen bersejarah itu terjadi pada sebuah Rabu siang di tahun 1981. Disaksikan keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, H. Tukijo dan Hj. Surtinah beserta sembilan putra-putrinya mengikrarkan wakaf tanah seluas 500 meter persegi. Niatnya satu: membangun Rumah Sakit Bersalin Islam pertama di Kabupaten Temanggung.
Hj. Surtinah bukan orang baru dalam dunia kesehatan. Mantan perawat masa penjajahan Belanda ini dikenal sebagai Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Parakan yang visioner dan sangat dermawan (loma). Baginya, dakwah adalah pengorbanan nyata.
Meski niat sudah bulat, tantangan modal sempat membuat tanah wakaf tersebut terbengkalai selama empat tahun. Hanya ada sebuah papan kayu bertuliskan “Calon RS Islam” yang berdiri di tengah sawah, menjadi saksi bisu doa-doa warga yang melintas.
Titik balik terjadi pada 10 Dzulhijjah 1401 H. Semangat gotong royong membuncah saat 400 relawan dari Parakan, Kedu, hingga Ngadirejo berkumpul. Dalam waktu kurang dari tiga jam, mereka berhasil merampungkan penggalian pondasi dasar.
Pembangunan berjalan lambat selama tujuh tahun akibat keterbatasan dana. Bangunan sempat mangkrak dan dipenuhi sarang burung. Namun, bantuan tak terduga mulai mengalir, termasuk sumbangan lantai ubin dari dr. Barit (Yogyakarta).
Hingga akhirnya pada 5 Mei 1989, diputuskan untuk memfungsikan gedung tersebut sebagai Balai Kesehatan Masyarakat (BKM) PKU Muhammadiyah, dengan dukungan dari RS Roemani Semarang dan RS PKU Temanggung.
BKM resmi dibuka pada 12 Oktober 1989 dengan modal awal yang sangat sederhana. Di bawah kepemimpinan dr. Noerhadi sebagai direktur pertama, layanan kesehatan ini perlahan meraih kepercayaan publik melalui sentuhan dakwah dan dedikasi tinggi.
Kini, dari sepetak sawah wakaf Hj. Surtinah, telah lahir kompleks pelayanan kesehatan modern. Sejarah mencatat, tanpa keberanian dan ketulusan niat sang Ibu ‘Aisyiyah tersebut, RS PKU Muhammadiyah Parakan mungkin hanya akan tetap menjadi sebuah mimpi di atas papan kayu.
Sumber:
Catatan harian almarhumah Ibu Hj. Aisyah (istri Bp. Ibnu Parakan), pengusaha Bolu Biru dan pengurus ‘Aisyiyah Cabang Parakan serta anggota MPKU RS PKU Muhammadiyah Temanggung hingga 2008.
Editor: Al-Afasy



