Bahaya Hilangnya Pemahaman Mendalam atas Manhaj dan Nilai Perjuangan Muhammadiyah

Oleh: Mohammad Noor Ridhollah (Peserta Sekolah Tabligh MT PWM Jateng)
PWMJATENG.COM, Dalam sejarah panjang Muhammadiyah, kekuatan terbesar yang membuat persyarikatan ini bertahan lebih dari satu abad bukanlah sekadar bangunan fisik, amal usaha, atau struktur organisasinya. Kekuatan inti yang menopang pergerakan ini adalah adanya ruh perjuangan. Sebuah rangkaian nilai, manhaj, cara berpikir, adab, dan orientasi ketajdidan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sayangnya, hari ini kita melihat banyak tanda bahwa rantai ideologis ini mulai merenggang, bahkan terputus di beberapa level.
Ketika ruh perjuangan ini tidak lagi menyala dalam dada, gerakan yang selama ini hidup karena memiliki visi dan kejelasan arah, perlahan berubah menjadi sekadar rutinitas. Dakwah hanya menjadi formalitas, aktivitas terasa hambar, dan amal usaha berjalan tanpa kompas ideologis yang memandu untuk apa awal mula persyarikatan ini didirikan.
Inilah bahaya besar yang tak kasat mata: gerakan ini terlihat sangat besar di luar, tetapi rapuh di dalam.
Rantai Ideologis yang Mulai Terputus
Di banyak ranting, cabang, hingga amal usaha, muncul fenomena bahwa warga dan kader muda sangat aktif beramal, sibuk mengurus kegiatan, namun mereka tidak benar-benar memahami mengapa Muhammadiyah didirikan dan apa misi pembaharuannya. Mereka mungkin tahu amal usahanya dan hafal mars Sang Surya, namun tidak mengenal manhaj tarjih atau metodologi berpikir Islam berkemajuan.
Akar persoalannya tidak lain adalah hilangnya proses pewarisan ideologis: Pengurus sibuk dengan administrasi, tetapi abai dalam pembinaan. Proses kaderisasi berjalan setengah hati, seringkali hanya sekedar seremonial dan tidak sampai menyentuh mindset kader.
Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, lambat laun Muhammadiyah hanya dikenal sebagai “pengelola amal usaha” atau “penyelenggara acara”, bukan sebagai gerakan tajdid yang menyelesaikan problematika umat dan bangsa.
Seharusnya pergerakan ini tidak hanya bertujuan sekadar membesarkan nama organisasi, tetapi harus membentuk manusia yang unggul. Ketika kaderisasi ideologis tidak berjalan, yang terbentuk bukanlah kader sejati, tetapi “petugas organisasi”. Mereka dapat menjalankan tugas dan mengelola program, tapi tidak memiliki ikatan batin dengan visi besar persyarikatan.
Inilah yang membuat banyak pengurus hari ini cepat lelah, mudah apatis, dan tidak memiliki keberanian mengambil terobosan. Mereka hadir di kegiatan, tetapi tidak merasakan makna besar di balik gerakan ini.
Ruh Perjuangan Harus Dihidupkan Kembali
Putusnya mata rantai ideologis bukan hanya sekadar kurangnya pengetahuan, tapi juga mengakibatkan hilangnya arah perjuangan. Tanpa arah yang jelas, gerakan sebesar apa pun hanya akan menjadi mesin yang berjalan tetapi tidak membawa perubahan.
Saat ini, tugas kita adalah menyambung kembali rantai ideologis tersebut. Kita harus mengenalkan kembali ruh perjuangan kepada generasi baru, menghidupkan kembali tradisi intelektual, menjernihkan kembali dakwah dari kabut ideologi luar, dan menguatkan kembali kesadaran bahwa Muhammadiyah bukan hanya sekedar kumpulan kegiatan, tetapi sebuah gerakan berkemajuan yang memikul amanah besar untuk mencerahkan peradaban.
Editor: Al-Afasy



