Atasi Krisis Moral, Guru Besar UMS Dorong Ilmu Tafsir Jadi Basis Etika Kebangsaan

PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Persoalan kebangsaan modern saat ini tidak cukup hanya melalui pendekatan hukum positif. Guru Besar Ilmu Tafsir Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Andri Nirwana, Ph.D., menegaskan bahwa akar masalah bangsa terletak pada krisis etika kebangsaan dan moralitas sosial.
Dalam jumpa pers pada Senin (19/1), Andri menyoroti maraknya korupsi dan polarisasi politik sebagai bukti lemahnya fondasi moral masyarakat. Meskipun regulasi sudah ketat, pelanggaran etika publik terus terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan legal-formal belum mampu menyentuh esensi masalah manusia.
Andri menawarkan Ilmu Tafsir sebagai sistem penalaran etis berbasis wahyu. Menurutnya, tafsir tidak hanya menjelaskan makna teks suci, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai moral untuk memandu tindakan dalam kehidupan bernegara. Ia mengacu pada Q.S. al-Ḥujurāt ayat 13 yang menekankan kemajemukan sebagai ruang untuk membangun saling menghormati.
“Dunia Ilmu Tafsir harus memiliki relevansi besar dalam menjembatani nilai wahyu dengan realitas kebangsaan yang kompleks,” ujar Andri. Ia mencontohkan penanganan korupsi yang memerlukan pendekatan tafsir maqashidi, yakni memahami tujuan keadilan di balik teks hukum agar memberikan efek jera tanpa menimbulkan masalah sosial baru.

Selain korupsi, Andri menekankan pentingnya menjaga kemaslahatan umum, termasuk kelestarian lingkungan. Al-Qur’an dengan jelas melarang kerusakan di bumi. Semangat ini sejalan dengan berbagai disiplin ilmu yang menentang eksploitasi alam berlebihan.
Oleh karena itu, ia merekomendasikan agar Ilmu Tafsir disejajarkan dengan pendidikan karakter bangsa. Selama ini, pakar tafsir jarang terlibat dalam penyusunan kebijakan publik. Padahal, nilai-nilai Qurani sangat relevan untuk merumuskan regulasi yang beretika dan berkeadilan bagi seluruh rakyat.
Andri berharap Ilmu Tafsir dapat berdialog dengan ilmu sosial dan studi kebangsaan. Dengan demikian, tafsir dapat bertransformasi dari sekadar kajian tekstual menjadi konstruksi nilai publik yang menopang kehidupan bernegara. Melalui penguatan etika kebangsaan ini, Indonesia diharapkan mampu bangkit dari krisis moral yang berkepanjangan.
Kontributor: Fika | Humas
Editor: Al-Afasy



