Abdul Rasyid: Konsesi Tambang Bekas, Peluang atau Jebakan?

PWMJATENG.COM, Candaan Pandji Pragiwaksono dalam Mens Rea tentang ormas keagamaan dan konsesi tambang mungkin memancing tawa, namun satire tersebut membuka kotak pandora mengenai relasi moral keagamaan dan industri ekstraktif. Bagi Muhammadiyah dan NU, persoalan ini bukan sekadar soal “rezeki anak saleh”, melainkan ujian berat atas tanggung jawab ekologis dan arah keberpihakan organisasi.
Dalam perspektif ekonomi sumber daya, menerima konsesi tambang bekas adalah keputusan yang problematik. Istilah “bekas” mengindikasikan bahwa cadangan ekonomis telah menipis, sementara beban lingkungan berada pada titik tertinggi.
Menerima tambang bekas berarti menerima “utang ekologis” dari pengelola sebelumnya. Potensi profitnya terbatas, namun risiko seperti air asam tambang, lubang maut, dan kewajiban reklamasi yang mahal tetap harus ditanggung. Secara ekonomi murni, ini sulit disebut rasional—lebih menyerupai jebakan kebijakan ketimbang peluang ekonomi.
Penunjukan Prof. Muhadjir Effendy sebagai Ketua Tim Khusus semakin mempertebal nuansa politik. Ada risiko besar Muhammadiyah terseret menjadi instrumen legitimasi kebijakan ekstraktif negara, yang berpotensi menggerus independensi kritis organisasi yang selama ini dikenal sebagai pilar warga sipil.
Muhammadiyah telah membangun legitimasi moral yang kuat melalui sektor pendidikan dan kesehatan. Memasuki sektor tambang menciptakan kontradiksi nilai.
- Kemaslahatan Ekonomi vs Keadilan Ekologis: Keuntungan finansial untuk umat tidak dapat membenarkan kerusakan lingkungan yang berdampak lintas generasi.
- Suara Akar Rumput: Ada jarak antara kalkulasi elit struktural dengan kegelisahan warga di tingkat bawah yang cenderung menolak eksploitasi alam.
Langkah paling ksatria bagi Muhammadiyah bukanlah membuktikan bahwa mereka bisa mengelola tambang dengan “lebih baik”, melainkan menarik diri dari sektor yang sejak awal sarat masalah. Mengembalikan konsesi tambang bekas justru akan memperkuat posisi moral Muhammadiyah sebagai pelopor dakwah pencerahan yang menjaga ruang hidup manusia.
Kritik humor Pandji mungkin jujur, namun realitas ekologis jauh lebih nyata. Menjaga lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari iman.
Oleh: Abdul Rasyid, S.E. (Lulusan Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB University / Ketua Umum IMM IPB University 2016-2018)
Editor: Al-Afasy



