Berita

Budiana: Pembelajaran Abad 21 Dibutuhkan Kecakapan Khusus, Berkiblat Rasulullah

PWMJATENG.COM, KENDAL – Para pendidik kini sudah memasuki abad 21 yang ditandai dengan derasnya arus informasi dan teknologi, maka pembelajaran abad ini merupakan pembelajaran yang mempersiapkan generasi 21 dimana kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi yang berkembang begitu pesat memiliki pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk proses belajar mengajar.

Hal itu dinyatakan oleh ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) SLTP Kab.Kendal, Budiana, dalam Bintek Peningkatan Kompetensi Guru Ismuba yang diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen PDM Kendal pada Sabtu (22/9) di STIT Muhammadiyah Kendal.

Beliau menyampaikan, setiap guru dituntut memiliki kecakapan, tidak sebatas dalam penyampaian materi pelajaran di depan anak didik.

“Kecakapan critical thingking and problem solving skill, kecakapan berkomunikasi, inovatif, dan kolaborasi sebagai upaya mendekatkan dan meningkatkan profesionalisme guru” katanya.

Dijelaskannya, kecakapan dalam berfikir kritis dan pemecahan masalah harus difahami, bahwa setiap guru dituntut memiliki kemampuan dalam menentukan kredibilitas suatu sumber. Guru mampu membedakan antara yang relevan dan sebaliknya, fakta penilaian, mampu mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi yang tidak terucapkan, mampu mengidentifikasi bias yang ada, sudut pandang, dan mampu mengevaluasi bukti yang ditawarkan untuk mendukung.

“Implementasinya mengarah pada sifat Rasulullah, yaitu sidiq, kebenaran melandaskan ucapan, keyakinan dan perbuatan guru” lanjut Budiana. Sebagai i’tibar, guru bisa menggambarkan kisah Malin Kundang, anak yang durhaka kepada orang tua. Bagi siswa yang memiliki jiwa kritis yang dilandasi dengan akhlak mulia akan menilai bahwa perbuatan si Malin Kundang bertentangan dengan agama, dan peserta didik akan berfikir akibat perbuatan durhaka kepada orang tua.

Di bagian lain Budiana menjelaskan, pengembangan karakter dalam proses critical thingking and problem solving, bahwa berfikir kritis diawali karena rasa ingin tahu yang menghargai perbedaan pendapat dan tanggung jawab secara jujur terhadap apa yang disampaikan.

“Kecakapan berkomunikasi diperlukan efektif dalam bercicara secara logis, bahasan yang disampaikan disesuaikan dengan konten dan konteks, menujukkan kesiapan untuk mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain”

“Penerapannya pada diri Nabi Muhammad adalah tabligh, yaitu bahwa kunci sukses dakwah Nabi Muhammad adalah kemampuan beliau dalam berkomunikasi menyampaikan ajaran agama” ujarnya lagi.

Sedangkan kreatifif dan inovastif bagi kita diperlukan berfikir yang divergen, berfikir berorientasi pada penemuan jawaban atau alternatif banyak, heuristik, proses pemecahan sampai masalah tersebut berhasil dipecahkan, dan berfikir lateral, mencari solusi untuk menyelesaikan masalah melalui metode yang tidak umum.

“Hal itu melekat pada diri Nabi Muhammad, fathonah. Kecerdasan Rasulullah dalam menyusun strategi dakwah, berdakwah ke tempat lain dan sebagainya” urainya.

Budiana melanjutkan, tujuan pendidikan dapat tercapai adanya kolaborasi dari berbagai pihak yang saling memberi dan menerima kepercayaan.

“Kolaborasi dalam proses pembelajaran merupakan suatu bentuk kerjasama dengan satu sama lain saling membantu dan melengkapi untuk melakukan tugas-tugas tertentu agar diperoleh suatu tujuan yang telah ditentukan”

“Didalam kolaborasi semua pihak menunjukkan kemampuan. Mampu bekerja sama dengan satu kelompok, berkompromi, berempati berbagi peran dan tanggung jawab, serta empati, menghormati dalam perspektif perbedaan” ungkapnya.

“Rasulullah ternyata memiliki pribadi amanah, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan kredibel, keinginan untuk memenuhi sesuatu sesuai dengan ketentuan” ungkapnya lagi. (Gofur/MPI Kendal)

 

 

 

Aji Rustam

Jurnalis MPI PWM Jateng, Wartawan Seniour TribunJateng

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE