Bayar Mahal tapi Masa Depan ‘Diskon’: Menggugat Ironi Pendidikan Indonesia

Di tengah ambisi memuja gelar, Ironi Pendidikan Indonesia kian nyata: biaya sekolah melambung tinggi, namun jaminan masa depan justru terasa semakin murah. Pendidikan yang dulu dianggap sebagai jalan pembebasan kini terasa seperti transaksi ekonomi. Siapa yang mampu membayar, dialah yang berhak bermimpi.
Fenomena mahalnya pendidikan bukan lagi rahasia. Dari SD hingga perguruan tinggi, biaya terus naik dengan dalih kualitas. Namun, ketika lulusan semakin banyak yang menganggur atau bekerja di luar bidangnya, narasi pendidikan sebagai investasi mulai kehilangan legitimasi. Sekolah tidak lagi menjadi ruang kesetaraan, melainkan panggung reproduksi ketimpangan sosial.
Institusi pendidikan sering terjebak dalam logika pencitraan. Sekolah berlomba membangun gedung megah dan fasilitas modern, namun lupa membangun karakter peserta didik. Akibatnya, siswa tumbuh dalam budaya prestise, bukan budaya berpikir. Kurikulum pun sering kali terputus dari realitas sosial dan kebutuhan teknologi masa depan.
semakin diperparah oleh dominasi logika pasar. Universitas dipaksa mengikuti kebutuhan industri, bukan kebutuhan manusia. Mahasiswa diperlakukan sebagai pelanggan, bukan subjek pembelajaran. Dalam situasi ini, pendidikan kehilangan orientasi etik dan humanistiknya.
Munculnya alternatif digital seperti kursus daring memang memberikan peluang baru. Namun, ini juga menjadi kritik keras bagi sistem formal yang lamban dan tidak adaptif. Tanpa reformasi struktural dari negara, pendidikan hanya akan menjadi mekanisme seleksi sosial yang kejam, bukan alat emansipasi.
Perlu ada reorientasi paradigma. Pendidikan harus dikembalikan pada visi pembebasan manusia, bukan semata-mata logika pasar. Reformasi ini melibatkan semua pihak: negara, guru, dan masyarakat. Jika tetap dikelola dengan logika prestise, sekolah hanya akan menjadi mesin produksi gelar tanpa makna. Ironi Pendidikan Indonesia ini harus menjadi alarm agar kita tidak melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, namun rapuh secara sosial.
Oleh : Nashrul Mu’minin
Editor: Al-Afasy


