Mengenal Konsep Futuwwah: Seni Menyatukan Spiritualitas dan Kemanusiaan

Dalam diskursus tasawuf, Konsep Futuwwah menjadi kompas bagi individu yang ingin membangun watak ksatria melalui perpaduan kedalaman iman dan bakti sosial. Secara hakiki, karakter ini mencerminkan transformasi seorang hamba yang berupaya melampaui belenggu nafsu demi kemaslahatan umat. Para ulama salaf memetakan bahwa konsep ini mencakup dimensi tauhid, mujahadah, dan muamalah yang saling berkaitan secara padu.
Pondasi utama dari karakter ini bermula dari pembersihan iktikad. Abu Ali ad-Daqqaq menegaskan bahwa dasar utama Konsep Futuwwah adalah ketauhidan yang murni kepada Allah tanpa ketergantungan pada dunia. Namun, keyakinan tersebut tidak boleh berhenti pada pemikiran saja. Iman yang kokoh harus mewujud menjadi khidmah atau darma bakti sosial yang berkesinambungan terhadap sesama manusia.
Perpindahan dari keyakinan menuju amal saleh memerlukan mekanisme mujahadatun nafs yang disiplin. Ulama seperti Ahmad bin Hanbal menyoroti pentingnya pengendalian diri terhadap dorongan hawa nafsu. Seseorang yang mengamalkan Konsep Futuwwah sanggup mengutamakan hak-hak Allah di atas keinginan pribadi. Proses ini melibatkan praktik wara’ atau sikap mawas diri untuk menjauhi segala hal yang merusak kemuliaan pekerti.
Agar tidak terjebak dalam prasangka, etika ini harus berpijak pada landasan syariat yang sahih. Sahl bin Abdullah at-Tustari menekankan pentingnya keteladanan penuh terhadap Sunnah Rasulullah SAW. Selain itu, pada dimensi kemasyarakatan, Konsep Futuwwah diamalkan melalui prinsip persamaan derajat. Al-Junayd al-Baghdadi merumuskan bahwa indikator keberhasilan karakter ini adalah kemampuan bersikap terbuka kepada siapapun tanpa membedakan martabat sosial.
Sebagai ikhtisar, Konsep Futuwwah adalah sistem adab menyeluruh yang menghubungkan integritas muamalah dengan ketulusan spiritual. Dengan menyatukan unsur tauhid, ketaatan pada syariat, dan sikap itsar (mendahulukan orang lain), konsep ini menawarkan model pembentukan insan kamil yang utuh. Hal ini tetap menjadi rujukan utama dalam membangun pribadi pemuda yang bertakwa di tengah dinamika zaman.
Oleh : Alvin Qodri Lazuardy, Majelis Tabligh PWM JATENG
Editor: Al-Afasy



