Bangun Masyarakat Tangguh Bencana, Guru Besar UMS Tekankan Pentingnya Mitigasi Berbasis Sains

PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Guru Besar Teknik Industri UMS, Prof. Ir. Eko Setiawan, Ph.D., menegaskan bahwa hidup berdampingan dengan potensi bahaya alam adalah pilihan rasional. Hal ini merupakan ikhtiar strategis dalam membangun masyarakat tangguh bencana yang mampu bangkit dari keterpurukan.
Dalam pengukuhannya pada Senin (19/1), Eko memaparkan bahwa rentetan peristiwa alam di Indonesia, mulai dari banjir bandang hingga erupsi gunung berapi, menunjukkan tingginya risiko bencana. Data EM-DAT tahun 2024 mencatat 393 bencana global yang mengakibatkan kerugian ekonomi hingga US$ 241,95 miliar. Mengingat posisi Indonesia di Ring of Fire, bencana menjadi sebuah keniscayaan yang harus kita kelola.
Menurut Eko, masyarakat tangguh bencana tidak lahir secara instan. Ada lima dimensi penting yang harus terpenuhi. Pertama adalah peningkatan kesadaran risiko melalui pendidikan. Kedua, adaptasi berkelanjutan terhadap perubahan iklim. Ketiga, pemanfaatan teknologi seperti big data, machine learning, dan kecerdasan buatan (AI) dalam pengambilan keputusan.

“Pembangunan tanpa mempertimbangkan aspek risiko bencana justru akan memperbesar kerugian di masa depan. Oleh karena itu, sains dan teknologi harus menjadi alat utama kita,” tegas Eko.
Selain teknologi, Eko menilai karakter masyarakat Indonesia yang religius merupakan modal sosial yang besar. Pelibatan organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah terbukti efektif dalam memperkuat kapasitas warga saat menghadapi krisis. Integrasi antara nilai spiritual dan manajemen bencana yang mencakup mitigasi hingga rekonstruksi menjadi kunci utama.
Sebagai penutup, ia mengajak masyarakat untuk menggunakan akal dan ilmu pengetahuan dalam membaca tanda-tanda alam. Dengan kesiapsiagaan yang matang, visi mewujudkan masyarakat tangguh bencana bukan sekadar impian, melainkan langkah nyata untuk melindungi masa depan bangsa.
Kontributor: Fika | Humas
Editor: Al-Afasy



