Qiyamul Lail: Kunci Ringankan Berdiri di Padang Mahsyar

PWMJATENG.COM, Salah satu anugerah yang diberikan Allah kepada orang yang istiqamah mengerjakan qiyamul lail adalah kemudahan berdiri di Padang Mahsyar pada Hari Kiamat. Hal ini disebabkan oleh lamanya ia berdiri mengerjakan salat di kegelapan malam. Pada hari itu, pandangan manusia terbuka lebar, kepala tertunduk lesu, kaki telanjang, dan mereka merasakan panas terik sengatan matahari. Mereka diselimuti keringat sendiri sesuai amal perbuatannya di dunia sebagai balasan yang adil. Sungguh, Tuhan Maha Mengetahui hamba-Nya.
Allah SWT telah menegaskan kebenaran ini dalam firman-Nya:
“Dan pada sebagian malam itu, maka rukuilah serta bertasbihlah kepada-Nya lama-lama di malam hari. Sesungguhnya orang-orang kafir itu menyukai kehidupan dunia dan mereka membiarkan suatu hari yang berat (Hari Kiamat).” (QS. Al-Insan : 26–27).
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, renungkanlah ayat tersebut! Allah SWT mengaitkan perintah berdiri lama untuk salat malam dengan peringatan keras bagi orang yang lalai terhadap Hari Kiamat yang amat berat. Hal ini menandakan bahwa orang yang bangun tahajud kepada-Nya di malam hari akan dimudahkan berdirinya pada hari agung itu. Wahai hamba yang berdiri bagi Tuhanmu!
Sebaliknya, orang yang melalaikan malam dengan kemalasan dan keluhan kelelahan akan merasakan kelelahan serupa saat berdiri di Hari Kiamat, karena balasan Allah SWT sesuai amal perbuatan. Barang siapa mengerjakan qiyamul lail lama di dunia, Allah akan meringankan berdirinya di Hari Kiamat. Barang siapa enggan melakukannya, ia akan mengalami sebaliknya di akhirat.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bersabda: “Barang siapa ingin Allah meringankan lamanya berdiri di Hari Kiamat, hendaklah ia menampakkan diri kepada Allah di malam hari dengan sujud dan berdiri sambil mengingat Hari Akhir.” (Ibnu Jarir ath-Thabari, Tafsir Ibnu Jarir, XXIII: 200).
Imam Abu al-Auza’i rahimahullah menyatakan: “Barang siapa berlama-lama mengerjakan qiyamul lail, Allah akan memudahkan baginya menghadapi lama berdiri di Hari Kiamat.” (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, X: 117).
Editor: Al-Afasy



