
PWMJATENG.COM, Jakarta – Sebuah video yang memperlihatkan insiden pengemudi ojek online (ojol) tertabrak kendaraan taktis (rantis) Brimob mendadak viral di media sosial. Dalam rekaman itu terlihat mobil berwarna hitam jenis ILSV (Indonesian Light Strike Vehicle) Black Navy menabrak seorang pengendara ojol saat pengamanan aksi unjuk rasa di Jakarta, Kamis (28/8).
Peristiwa ini memunculkan beragam reaksi publik. Banyak yang mempertanyakan spesifikasi kendaraan tersebut, terutama soal kemampuan menahan proyektil peluru.
Menjawab hal itu, Ilham Habibi, dosen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), memberikan penjelasan ilmiah. Ia menegaskan bahwa kendaraan taktis tersebut bukan kendaraan biasa.
“ILSV Black Navy bukan sekadar mobil, tetapi simbol kemampuan bangsa menghadirkan teknologi pertahanan modern dan tangguh,” ujarnya.
Habibi menerangkan bahwa material baja yang digunakan kendaraan itu disebut armor steel atau ballistic steel. Menurutnya, baja ini tidak diproduksi sembarangan, tetapi melalui proses khusus.
Baca juga, Tafsir Soroti Tradisi Maulid Nabi di Jawa: Antara Syair, Sastra, dan Keteladanan
“Mulai dari pemilihan komposisi paduan, perlakuan panas (heat treatment), hingga pengendalian struktur mikro. Hasilnya adalah kombinasi sifat yang sulit dicapai, yaitu keras untuk menghentikan peluru, namun tetap ulet agar tidak mudah retak,” jelasnya.
Ia menambahkan, ILSV Black Navy dirancang menggunakan baja lapis anti peluru yang mampu menahan proyektil berstandar NIJ Level III. Standar itu setara dengan kemampuan menghentikan peluru dari senjata M16 maupun AK-47.
“Kalau mobil bisa menahan peluru, maka batu, benda tumpul, atau tusukan pisau tentu bukan ancaman berarti. Karena itu kendaraan ini sangat cocok digunakan dalam pengamanan massa,” tegasnya.
Selain material baja khusus, rantis tersebut juga dilengkapi teknologi ban run-flat. Ban ini memungkinkan kendaraan tetap bergerak meski tertembus peluru.
“Dengan ban run-flat, mobil tetap dapat beroperasi dalam kondisi darurat. Di UNIMMA, mahasiswa Teknik Mesin mempelajari bagaimana logam bisa dimodifikasi sehingga menjadi tahan peluru. Jadi bukan hanya teori, tapi aplikasi nyata yang mendukung teknologi strategis nasional,” terang Habibi.
Habibi menegaskan bahwa riset mengenai material pertahanan juga menjadi bagian dari komitmen UNIMMA dalam mendukung kemajuan teknologi Indonesia.
Sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah, UNIMMA terus mengembangkan riset dan pengajaran sesuai kebutuhan industri maupun pertahanan. “Harapannya, lahir lebih banyak inovator muda yang membuat Indonesia mandiri di bidang teknologi,” tuturnya.
Kontributor : Arin
Ass Editor : Ahmad; Editor : M Taufiq Ulinuha