Khazanah Islam

Tuntunan Idulfitri Menurut Fatwa Tarjih Muhammadiyah: Dari Malam Takbiran hingga Salat Id

PWMJATENG.COM, Surakarta – Idulfitri adalah momen kemenangan bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. Dalam rangka menyambut hari besar ini, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid telah menetapkan tuntunan pelaksanaan Idulfitri sesuai dengan prinsip syariat. Salah satu anjuran yang ditekankan adalah memperbanyak takbir sejak matahari terbenam pada malam 1 Syawal hingga menjelang pelaksanaan Salat Id.

Berdasarkan perhitungan hisab hakiki wujudul hilal yang menjadi metode Muhammadiyah dalam menentukan awal bulan hijriah, Idulfitri 1446 H diperkirakan jatuh pada Senin, 31 Maret 2025. Selama sisa Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah dan berdoa agar amal saleh yang telah dilakukan selama bulan suci diterima oleh Allah SWT.

Takbir merupakan bagian penting dalam perayaan Idulfitri. Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan hendaklah kalian menyempurnakan bilangannya, dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur.”

Ayat ini menjadi landasan bagi umat Islam untuk mengumandangkan takbir sebagai bentuk syukur atas kesempatan yang diberikan Allah SWT untuk menyelesaikan ibadah puasa.

Terkait bacaan takbir, Muhammadiyah berpegang pada riwayat yang menyebutkan bacaan berikut:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar, walillah ilham.”

Takbir ini dianjurkan dikumandangkan sepanjang malam Idulfitri, baik secara berjamaah maupun sendiri-sendiri.

Baca juga, Khutbah Idulfitri: Jadilah Pemaaf, Bukan Pendendam!

Selain takbir, umat Islam juga dianjurkan untuk mempersiapkan diri dengan mengenakan pakaian terbaik saat berangkat ke tempat Salat Id. Hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memakai pakaian terbaik dan mengenakan wewangian pada hari raya.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jawa Tengah, Yayuli, menjelaskan bahwa pakaian yang dikenakan tidak harus baru, tetapi yang terbaik dan layak.

Sebelum berangkat ke tempat Salat Id, umat Islam juga dianjurkan untuk makan terlebih dahulu, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW selalu makan beberapa butir kurma dalam jumlah ganjil sebelum berangkat ke tempat Salat Idulfitri.

Selain itu, umat Islam dianjurkan untuk berjalan kaki jika memungkinkan, serta mengambil jalan yang berbeda antara saat pergi dan pulang dari tempat salat. Hal ini sesuai dengan hadis dari Abu Hurairah RA yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW selalu memilih rute yang berbeda saat berangkat dan kembali dari salat Id.

Salat Idulfitri merupakan ibadah yang sangat dianjurkan untuk diikuti oleh seluruh umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan, perempuan yang sedang haid tetap dianjurkan hadir untuk mendengarkan khotbah meskipun tidak ikut melaksanakan salat.

Salat Id dilaksanakan sebanyak dua rakaat secara berjamaah di tanah lapang atau tempat terbuka. Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram, dilakukan tujuh kali takbir tambahan, sedangkan pada rakaat kedua dilakukan lima kali takbir tambahan sebelum membaca Surah Al-Fatihah.

Setelah salat, khotbah Idulfitri disampaikan satu kali. Khotbah ini diawali dengan pujian kepada Allah (hamdalah) dan berisi nasihat bagi jamaah. Rasulullah SAW selalu menyampaikan khotbah setelah salat Id untuk memberikan bimbingan kepada umatnya.

Dalam praktiknya, masih banyak jamaah yang meninggalkan tempat salat sebelum khotbah selesai. Yayuli menekankan bahwa mendengarkan khotbah merupakan bagian dari tuntunan Rasulullah SAW yang sebaiknya tidak ditinggalkan.

Kontributor : Gede
Ass Editor : Ahmad; Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE