PWM JatengTokoh

Tafsir: Ramadan Harus Menjadi Kurva Naik dalam Spiritualitas Seseorang

PWMJATENG.COM – Setiap kali memasuki bulan Rajab, umat Islam dianjurkan untuk berdoa agar diberikan keberkahan hingga akhirnya dapat bertemu dengan bulan suci Ramadan. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Tafsir, dalam program Teras Ramadan menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum untuk meningkatkan kebahagiaan dan kebaikan dalam kehidupan.

Menurut Tafsir, Ramadan sering disebut sebagai sayyidus syuhur atau rajanya bulan. Di Indonesia, bulan ini lebih akrab disebut sebagai bulan suci, mengingat berbagai keutamaan yang terkandung di dalamnya. Dalam sebuah hadis disebutkan: قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرٌ مُبَارَكٌ (Qad jaakum syahrun mubarak), yang artinya “Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah.” Istilah mubarak dalam berbagai kitab diartikan sebagai ziyādat as-sa‘ādah wa ziyādat al-khair, yakni bertambahnya kebahagiaan dan kebaikan.

Berkaca dari makna tersebut, umat Islam diajak untuk menyambut Ramadan dengan penuh kebahagiaan dan memanfaatkannya dengan amal kebaikan. Sebab, di bulan ini, pahala dilipatgandakan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Maka, sangat disayangkan jika Ramadan berlalu tanpa diisi dengan ibadah dan amal kebaikan.

Ramadan bukan hanya tentang menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperbanyak ibadah. Ibadah ritual seperti salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan iktikaf di sepuluh hari terakhir sangat dianjurkan untuk ditingkatkan. Meski demikian, peningkatan ibadah di bulan ini tidak lantas membuat ibadah di bulan lainnya menjadi lemah. Ramadan justru menjadi titik tolak untuk memperbaiki dan mempertahankan ibadah sepanjang tahun.

Di samping ibadah ritual, Ramadan juga menekankan pentingnya ibadah sosial. Salah satu hikmah besar dari Ramadan adalah membangun solidaritas antara yang kaya dan miskin. Hal ini tercermin dalam konsep المساواة بين الأغنياء والفقراء (al-musāwāh bayna al-aghnīyā’ wa al-fuqarā’), yaitu kesetaraan antara orang kaya dan miskin. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak sedekah, infak, serta membantu fakir miskin. Memberikan infak untuk masjid, menyumbang makanan untuk berbuka puasa, dan berbagi kepada sesama adalah bagian dari amal sosial yang sangat dianjurkan selama Ramadan.

Baca juga, Kontekstualisasi Ideologi Muhammadiyah dalam Kehidupan Bernegara

Salah satu esensi utama dari puasa adalah menahan diri. Secara istilah, puasa atau ṣiyām berarti الإمساك عن المفطرات من الفجر إلى المغرب مع النية (al-imsāk ‘an al-mufṭirāt min al-fajr ilā al-maghrib ma‘a an-niyyah), yakni menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga matahari terbenam dengan disertai niat.

Namun, puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, Ramadan menjadi ajang untuk mempersempit ruang bagi nafsu duniawi dan memperluas ruang hati nurani. Nafsu yang cenderung membawa pada keburukan harus dikendalikan, baik dalam bentuk kesombongan, kedengkian, maupun amarah. Sebaliknya, hati nurani yang cenderung pada kebaikan harus semakin diperbesar dengan memperbanyak ibadah, baik yang bersifat ritual seperti zikir dan salat, maupun yang bersifat sosial seperti berbagi dan menolong sesama.

Dalam Al-Qur’an, puasa disebut sebagai jalan menuju ketakwaan:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (la‘allakum tattaqūn), yang berarti “agar kamu sekalian bertakwa.” Ketakwaan di sini mencerminkan kemampuan seseorang untuk menahan diri dari perbuatan buruk sekaligus mendorongnya untuk melakukan perbuatan baik.

Menjadikan Ramadan sebagai Momentum Perubahan

Tafsir menekankan bahwa Ramadan harus dimanfaatkan secara maksimal. Semangat beribadah sebaiknya terus meningkat dari awal hingga akhir bulan, bukan sebaliknya. Ramadan seharusnya menjadi kurva naik dalam spiritualitas seseorang, bukan waktu yang justru menurun dalam semangat ibadah.

Peningkatan ibadah dan pengendalian diri selama Ramadan diharapkan dapat membentuk karakter yang lebih baik setelah bulan ini berlalu. Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sebuah proses pembinaan diri agar seseorang semakin jujur, semakin peduli, dan semakin bertakwa kepada Allah. Sehingga, ketika Ramadan berakhir, semangat ibadah dan kebaikan tetap bertahan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, Ramadan tidak hanya menjadi bulan penuh berkah, tetapi juga menjadi momentum bagi setiap Muslim untuk meningkatkan ketakwaan dan memperbaiki diri. Sebagaimana pesan dari ayat dan hadis, bulan ini adalah kesempatan emas untuk mengubah diri menjadi lebih baik, dengan mengendalikan hawa nafsu, memperbanyak ibadah, dan memperkuat kepedulian sosial.

Kontributor : Aisa
Ass Editor : Ahmad; Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE