Tidak Perlu Mobilisasi Massa

0
79

PWMJATENG.COM, JAKARTA – Pimpinan Pusat Muhammadiyah Senin 15/4 menyampaikan pernyataan tentang Pemilihan Umum 17 April di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng Jakarta Pusat. Pernyataan dibacakan oleh Dr. Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum, didampingi Dr. Haedar Nashir, Ketua Umum, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, Ketua, Dr. Anwar Abbas, Ketua, Prof Dr. Suyatno, Bendahara.

Menjawab pertanyaan tentang kriteria caleg dan presiden yang harus dipilih, menurut Haedar Nashir, soal kriteria sudah selesai saat kampanye. Muhammadiyah ingin menyampaikan pesan moral bersama-sama komponen bangsa mencerahkan kehidupan kebangsaan kita setelah tujuh bulan lebih berada dalam suasana proses kampanye pemilu. PP Muhammadiyah dengan delapan poin pernyataan itu sudah cukup representasi untuk menyongsong hari “H” pemilhan dalam konteks kebangsaan lebih luas. “Jadi urusan kriteria sudah selesai saat kampanye”, ujarnya. Haedar percaya anak bangsa sudah cerdas, matang dan bijaksana. PP Muhammadiyah mengingatkan bahwa kita sudah sebelas kali pemilu sejak Orde Baru sampai Orde Reformasi. Sengaja memori ini dibuka agar kita belajar bersama, sehingga kita semakin cerdas dan bijaksana dalam pemilu. Ada riak gelombang itu sebagai dinamika politik. Begitu masuk pemilihan semua harus menciptakan susana damai toleran.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan terimakasih kepada semua komponen bangsa, bahwa kampanye secara umum berjalan secara baik. Karena itu mari bersama memastikan dengan spiritualitas berbangsa pemilu bisa berlangsung sebaik-baiknya.

Menjawab pertanyaan himbauan tentang  shalat subuh berjamaah di sekitar TPS, apakah itu bentuk politisasi ibadah, Haedar merujuk pada pernyataan poin lima pernyataan, yang berbunyi seluruh warga negara yang memiliki hak pilih agar menggunakan hak politiknya dengan penuh tanggung jawab dan seterusnya, Haedar percaya bahwa umat Islam akan menjalankan ibadah mahdhah secara khusu, karena ibadah seperti itu tidak perlu dimobolisasi untuk kepentingan politik. Shalat-shalat ditunaikan di masjid, jadikan kemakmuran masjid untuk membawa kehidupan akhlak mulia, membangun kehidupan berbangsa bernegara yang lebih baik.

Terhadap pertanyaan wartawan tentang people power, Haedar menghimbau hendaknya yang mendapat keberhasilan diterima sebagai amanah dengan penuh rendah hati, dan bagi yang belum memperoleh mandat supaya menerima dengan lapang hati, kalau ada masalah persengketaan selesaikan melalui prosedur hukum Mahkamah Konstitusi dan peraturan perundang-undangan, tidak perlu mobilisasi massa. Sebagai umat beriman, hasil apa pun kita terima dengan syukur, sabar, dan sikap yang baik.” Demikan Haedar. (ek)