Menyambut Tahun Baru Masehi 2018 (Sebuah Renungan)

0
107
SUMBER: Szaktudas

Drs. Margo Hutomo, LC *}

KINI kita sudah memasuki tahun baru 2018 M, dan telah meninggalkan tahun lama 2017 M.
Dalam setiap pergantian tahun baru Masehi, sebagian masyarakat kita, terutama kaum muda menyambutnya secara meriah, bahkan terkadang berlebihan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Ada yg menyambut-nya dengan begadang semalam suntuk, membunyikan terompet, pawai dan karnaval, pesta kembang api, pergi ke tempat-tempat wisata, pesta minum arak dan berjoged dengan wanita yang diiringi musik dan lagu di tempat-2 hiburan dan lain sebagainya.
Inilah sebagian pemandangan yang bisa kita lihat ketika masyarakat menyambut datangnya tahun baru Masehi.

Menyambut tahun baru dengan penuh senang dan gembira bagi muslim tidak diharamkan sepanjang tidak melanggar aqidah dan syariat maupun akhlak yang telah digariskan Al Qur’an & Sunnah Rasulullah Saw.

Allah berfirman dalam QS al-Ashr yg artinya:
“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali mereka yg beriman dan mereka yg mengerjakan amal-amal shalih, dan mereka yang saling berwasiat dengan kebenaran dan mereka yang saling berwasiat dengan kesabaran.”

Dalam surat tersebut Allah Azza wa Jalla memperingatkan manusia agar betul-betul memperhatikan waktu dan tidak melalaikannya, karena waktu akan terus berlalu dan tak akan pernah mau kembali. Maka siapa yang tidak memperhatikannya dan melalaikannya atau tidak menggunakannya secara maksimal untuk hal-hal yg manfaat bagi dirinya, keluarganya maupun orang lain yg ada di lingkungannya, maka sungguh ia dalam kerugian yg sangat besar, baik untuk kehidupannya di dunia maupun di akhirat.

Allah dalam surat diatas memberikan kepada manusia petunjuk tentang Tata cara Menghindari Kerugian dalam Penggunaan Waktu:
Pertama, mengimani Allah dan tidak mensekutukan-Nya dengan selain-Nya, mengimani rasul-Nya Muhammad Saw. dan segala ajaran yg disampaikannya.
Kedua, melakukan/ melaksanakan amal perbuatan yg telah digariskan Allah dan Sunnah Rasulullah saw.
Ketiga, melakukan/melaksanakan dakwah amar makruf nahi mungkar kepada masyarakat berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.
Keempat, berlaku sabar atas segala kesempitan dan kesengsaraan hidup yang dialaminya.

Dan sebagai penutup dari sekapur sirih renungan ini, maka kita sambut tahun baru 2018 ini dengan semangat dan tekad untuk mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat dan sesuai dengan ridha-Nya.

Wallahu A’lam

Wiradesa, 31/12/2018
*} anggota LHKP-PWM Jateng

TINGGALKAN KOMENTAR