Membangun Eksistensi Diri Lewat Menulis

0
57

Thomas Utomo, S.Pd.

MENULIS adalah cara terbaik untuk membingkai kenangan—entah baik maupun buruk—sekaligus cara memupuk harapan agar masa depan bisa lebih cerah lagi.
Demikian dikatakan Thomas Utomo yang akrab disapa dengan panggilan Totok, di kediamannya, di Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, Jumat (9/3/2018).
Beragam tulisan berupa artikel, cerpen, citizen journalism, flash fiction, memoar, naskah drama, novel, novelet, dan resensi telah dihasilkan oleh pria kelahiran Banyumas, 1 Juni 1988 ini. Tulisan-tulisannya dimuat di Annida, Buletin Jejak, Derap Perwira, Fatawa, Halo Nanda, Koran Jakarta, Nikah, Potret, Radar Banyumas, Sang Guru, Satelit Post, Serambi Ummah, Story, Suara Muhammadiyah, Wawasan, dan sebagainya.

Beberapa hasil karya Totok yang telah diterbitkan sebagai buku, antara lain Cerita dari Asrama Tentara (novel anak, Bitread, 2017), Lepas Rasa (kumpulan cerpen, Loka Media, 2017), Aku Bukan Gay (kumpulan cerpen, Loka Media, 2016), Misteri Nenek Pemuntah Darah (kumpulan cerpen anak, Pro U Media, 2016), Catatan dari Balik Jendela Sekolah (memoar, Elex Media Komputindo, 2015), dan Hikayat Tanah Beraroma Rempah (kumpulan cerpen, Pustaka Puitika, 2015).

Novel anak terbarunya yang segera terbit adalah Petualangan ke Tiga Negara, ditulis berdasarkan pengalaman siswa-siswa SD UMP saat melakukan edu trip ke Singapura, Malaysia, dan Thailand, 2016 lalu.

Untuk karya bersama berupa antologi, coretan suami Meli Purianti Setianingrum ini terhimpun dalam Bunga Rampai Pemenang Lomba Karya Tulis Fiksi SD (kumpulan cerpen anak, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, 2017) dan Creative Writing (kumpulan tulisan fiksi dan nonfiksi tentang sastra, STAIN Press, 2013).

Totok pernah pula menyabet Juara Lomba Foto dan Testimoni Buku Tingkat Nasional (2018), Juara I Lomba Cerpen Islamic Fair Tingkat Karesidenan Banyumas (2018), Juara I Lomba Karya Tulis Fiksi dalam Rangka Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tingkat Kabupaten Banyumas (2017), dan Pemenang Hiburan Lomba Resensi Buku Tingkat Nasional (2013).

Kegiatan Totok dalam bidang tulis-menulis, tidak muncul begitu saja. Memiliki orang tua yang gemar membaca, membuat dia mendapat warisan spesial, bukan harta benda, melainkan hobi membaca.

“Saya tumbuh dalam keluarga yang gemar membaca. Bapak dan Ibu, sama-sama suka baca koran, tabloid, majalah, dan novel. Mereka sering menghadiahi saya majalah, komik, kumpulan cerita rakyat, cerita wayang, atau buku pengetahuan umum semacam buku sejarah dan sains,” tutur Totok.

Selain membanjiri Totok dengan hadiah bahan bacaan, sang ibu juga kerap berkisah tentang pengalaman masa lalu, riwayat keluarga, dan cerita-cerita yang sudah atau sedang dibaca. Dengan segudang bahan cerita yang tertanam di benaknya, lambat laun Totok berpikir, alangkah menariknya jika dia juga membuat cerita seperti itu.
Totok pun mulai mencoba untuk menulis. Tapi tidak mudah ternyata, karena menulis membutuhkan ketekunan, kekayaan pengetahuan, penguasaan kosakata, kejelian mengatur diksi, dan sebagainya. Kendati begitu, dia merasa tertantang untuk melakoninya.

“Awalnya, saya menulis pakai tangan. Kemudian dikirim ke sejumlah media. Tulisan itu berupa cerpen dan artikel. Alhamdulillah, ada yang dimuat, meski banyak juga yang ditolak. Saya juga pernah mengirim banyak tulisan yang ditulis dengan mesin ketik. Cukup banyak yang dimuat. Kalau sekarang, ya kirimnya dalam bentuk soft file yang diketik pakai komputer,” katanya.

Untuk urusan suka duka sebagai penulis, Totok mengaku lebih banyak sukanya. “Sukanya ketika sudah selesai menulis, saya merasa berhasil mengalahkan diri sendiri. Berhasil menaklukkan rasa malas, mengalahkan rasa enggan, ide macet, dan rasa tidak percaya diri,” katanya.

Suka berikutnya ketika tulisannya dimuat di media massa. Setiap kali ada tulisan yang dimuat, entah apapun jenisnya, Totok selalu merasa lega. “Rasa suka lainnya adalah ketika ada yang mengapresiasi tulisan saya, entah berupa kritik maupun saran perbaikan,” katanya.

Namun dibanding mendapat pujian, Totok mengaku lebih senang dapat kritikan, karena dari kritik tersebut dia bisa memperbaiki diri.
Sementara kalau bicara duka, adalah ketika tulisannya ditolak oleh media massa. Saat baru merintis karier sebagai penulis, Totok sampai ‘frustrasi’ karena hal itu, sampai-sampai sempat tidak mau menulis lagi.

“Lama-lama, dengan berubahnya waktu dan usia serta pengalaman hidup, kalau tulisan saya ditolak, saya cuma kecewa dan beberapa saat kemudian sembuh. Esoknya, nulis lagi,” katanya tertawa.

Meski tidak terlalu menghiraukan soal honorarium, Totok mengakui bila profesi sebagai penulis dapat dijadikan sebagai mata pencaharian utama. Menurut alumni Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Purwokerto ini, ada tiga hal yang harus dijalankan bila ingin menjadikan profesi penulis sebagai penghasilan utama, yaitu tekun, produktif, dan marketable.
“Tulisan kita harus marketable, supaya mudah diserap pasar. Saya melihat sendiri ada beberapa kenalan yang benar-benar hidup hanya dengan mengandalkan honorarium dari menulis,” katanya seraya menyebut beberapa nama.

*Disadur dari tulisan Eka Maryono berjudul Lebih Dekat dengan Thomas Utomo di Suara Nusantara, 12 Maret 2018.

TINGGALKAN KOMENTAR